BILGHOUTS

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

 BILGHOUTS

adalah “Mulachadhotul Ghouts” (memandang dengan pandangan bathin) kepada Ghouts dalam semua amal; baik amal bidang Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul dengan merasa melalui bimbingan Ghouts. Karena sesungguhnya Ghouts adalah washithoh (perantara) antara kita dan Rosul SAW dalam mendapatkan petunjuk, bimbingan, pertolongan dan hidayah. Juga sebagai wasilah (jembatan) kita menuju kepada Alloh dan Rosul SAW dalam semua hajat, karena Beliau adalah orang yang mustajab permohonannya dan sempurna dalam menampakkan sifat ahadiyah dzat-Nya Alloh.

Syeh Abdul Wahab Asy-Sya’roni berkata:

“tidak ada tempat menampakkan sifat Ahadiyah Dzat-Nya Alloh kecuali manusia yang kaamil (sempurna), bahkan ia adalah orang yang lebih sempurna bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW dalam semua hajat, karena ia sebagai pewaris Nabi SAW secara sempurna”.

Syeh Abul Abbas ra berkata:

“Maqom salik tidak bisa sempurna, kecuali setelah bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW sebagaimana muroja’ah (dialog) nya seorang murid dengan gurunya”.

Maka dalam kitab Yawaqit juz 1 hal 72, disebutkan: “Apabila telah syah (benar dan nyata) bagi seorang wali mengambil pelajaran langsung dari Nabi SAW tanpa melalui perantara, maka ia telah syah menjadi mursyid memberi petunjuk ummat Muhammad, dan menduduki tempat permohonannya ummat kepada Alloh Yang Maha Agung, dengan menempati hukum penggantinya Rosululloh SAW”.

Maka wajib bagi kita bersyukur kepada Ghouts dengan merapkanan Bil-Ghouts. Karena meskipun kita menyadari bahwasanya Alloh sendiri yang memberi pertolongan, namun hukum syari’at mewajibkan kita mensyukuri perantaraannya. Maka penerapan Bil-Ghouts adalah wujud syukur kepadanya, dengan memandang semua ni’mat yang telah sampai kepada kita sebab perantaraan Beliau.

Rosul SAW bersabda:

التحدث بنعمة الله شكر وتركها كفر ومن لا يشكر القليل لا يشكر الكثير ومن لا يشكر الناس لا يشكر الله والجماعة بركة والفرقة عذاب

(رواه البيهقى عن النعمان بن بشير)

“Tachadus Bini’matillah (membicarakan ni’mat Alloh) merupakan wujud syukur, dan meninggalkannya adalah kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak bisa mensyukuri yang banyak. Dan barangsiapa tidak syukur kepada mansia, maka ia tidak syukur kepada Alloh. Jama’ah (bersatu) adalah membawa barokah, sedangkan perpecahan membawa adzab”. (HR. Baihaqi dari Nu’man bin Basyir).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s