1. Untuk apa kejernihan hati / kesucian batin dan kebersihan lahir di butuhkan setiap manusia ?

kejernihan hati / kesucian batin dan kebersihan lahir adalah suatu kondisi yang mutlak yang di butuhkan oleh setiap manusia untuk membina dan menjamin hidup dan kehidupan yang tenang,tentram, bahagia dan sejahtera jasmani dan rohani dan kebersihan lahir adalah termasuk perjuangan hidup yang harus di usahakan oleh setiap manusia.

2. Apa yang di maksud menjernihkan hati?

Menjernihkan hati adalah : membebaskan hati dari pengaruh – pengaruh nafsu yang senantiasa berusaha dan bertipu daya untuk menguasai hati manusia

3. Apa gunanya menjernihkan hati ?

gunanya banyak sekali :

  • Untuk menghindari manusia dari kejahatan dan kehancuran dunia dan akhirat,karena nafsu itu senantiasa mengajak dan mengarahkan pada perbuatan jahat dan sesat. Sebagaiman Firman Alloh SWT yang menghikayahkan pernyataan Nabi Yusuf AS. Sebagai berikut :

    “ dan aku tidak akan membiarkan nafsuku menguasai diriku kerena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rohmat oleh Tuhanku “(QS.Yusuf : 54)

  • Untuk menjadikan manusia baik lahir maupun batinnya yang disebabkan hatinya suci bersih dari kotoran-kotoran nafsu. Sebagai sabda Rosululloh SAW :

    ‘Sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, menjadi baik pulalah jasad, dan apabila rusak / kotor, menjadi pula rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, yaitu hati”.

  • Untuk mendayagunakan segala aspek kehidupan, terutama dalam pengabdian diri kepada Alloh SWT. Firman

    ‘Pada hari yang tidak bermanfaat harta benda dan tidak bermanfa’at (berguna) pula anak-anak (hari qiyamat), kecuali orang yang datang kehadirot Alloh dengan hati yang suci (bersih dari syirik dan maasyi). AsySyuaroo 88 -,89.

4. Bagainana hukumnya menjernihkan hati ?

Hukumnya Wajib ‘ain. Sebagaimana pernyataan para Ulama terutama para Ulama.Shufi, sebagai berikut

‘’Menjernihkan (membersihkan) jiwa (hati) dari kotoran-kotoran nafsu adalah wajib”

Wajib di sini dalam arti harus diusahakan oleh setiap orang. Baik pria wanita, tua-muda, dari golongan dan bangsa manapun juga semuanya wajib menjernihkan hati dalam dalam rangka mencapai kehidupan yang selamat, sejahtera dan bahagia lahir batin,

Wajib disini dalam arti harus diusahakan oleh setiap orang baik pria,wanita,tua,muda dari golongan dan bangsa manapun juga semuanya wajib menjernihkan hati, dalam rangka mencapai hidup dan kehidupan yang baik didunia dan akherat.

5. Istilah populer sekarang menjernikan hati itu di sebut apa ?

membersihkan (menjernihkan) hati istilah populer sekarang di sebut : operasi mental dan pembangunan mental !

6. Cara Menjernihkan Hati atau Operasi Mental

Sebelum kita pelajari bagaimana cara menjernihkan hati, marilah kita perhatikan operasi mental yang dialami Beliau Rasuululloh SAW, dalam menjalani Isro’ Mi’roj. Operasi mental tersebut merupakan tuntunan nyata yang harus diikuti para umat, bahkan oleh setiap manusia.

Adapun caranya operasi sebagai berikut :

a.Kotoran kotoran yang terdapat dihati Rasululloh SAW, oleh malaikat Jibril dicuci dengan air zam-zam.

b.Kemudian hati Rasuululloh SAW dipenuhi dengan Hikmah, Iman,Hikmah (ramah tamah / lemah lembut ), Ilmu yakin dan Islam.

Maka gangguan dan godaan yang di alami dalam perjalanan Isro Mi’roj semua di atasi dengan sempurna dan sukses menghadap Kehadirod Alloh SWT untuk menerima tugas – tugas yang harus di jalankan olah ummat . antara lain ;sholat lima waktu dalam sehari semalam

7. Bagaiman cara menjernikan hati /operasi mental bagi kita ?

Adapun cara menjernihkan hati bagi kita, secara global dapat dilaksanakan dengan dua macam cara yaitu :

1.Mendayagunakan kemampuan batiniyah, yakni dalam bentuk berdo’a kepada Alloh AWT. yang merupakan senjata dan otak / intinya ibadah.

2.Mendayagunakan kemampuan lahiriyah. yakni dalam bentuk bekerja, berkarya dan bentuk aktifitas lahiriyah lainnya.

8. Apakah ilmu itu harus disertai dengan hidayah ?

Ilmu itu harus disertai dengan hidayah, sebab kalau tidak ilmu itu akan menambah jauh pada pemiliknya dari Alloh SWT

dasarnya sabda Rosululloh Saw :

“Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, maka tidak bertambah (dekatnya ) melainkan semakin jauh dari Alloh SWT”.

9. Apa sebab menjernihkan hati menggunakan do’a/mujahadah

sebab do’a adalah : senjata bagi orang iman (mukmin) dan Mujahadah adalah kunci dari pada hidayah sebagaiman Sabda Nabi :

Do’a adalah senjata orang mukmin dan tiangnya agama dan sebagai cahaya (yang menerangi) langit dan bumi”

Dan kata Imam Ghozali RA, Dalam Kitabnya Ihyak Ulumuddin Juz I / 39.

“Mujahadah adalah kuncinya hidayah, tidak ada kunci untuk memperoleh hidayah selain Mulahadah”

10. Apakah hidayah Alloh dapat diperoleh atau diusahakan dengan upaya manusia ? jawabannya tegas DAPAT.

Firman Alloh dalam Al Qur’an Surat Al Ankabut ayat 69, sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridloan) KAMI, sungguh-sungguh akan KAMI tunjukkan kepada mereka jalan-jalan KAMI’’.

11. Do’a apa yang paling ampuh menjernihkan hati ?

Do’a yang paling ampuh mustajab adalah doa Sholawat kepada Rosulullooh SAW dasarnya Sabada Nabi SAW :

“Segala sesuatu itu ada alat pencuci dan pembasuh. Dan adapun alat pencuci hati seorang mu’min dan membasuhnya dari kotoran yang*sudah melekat / sudah berkarat itu dengan membaca Sholawat kepada-Ku”. (Saaadatud Daroini hal : 511 ).

Kata Syekh Hasan Al- ‘Adawi dalain Syarah Dalailul Khoirot : ‘

‘Sesungguhnya membaca Sholawat kepada Nabi SAW itu bisa menerangi hati dan mewushulkan kepada Tuhan Dzat yang Maha Mengetahui perkara ghoib tanpa guru”.(Sa’aadatud Daroini 36).

12. Jelaskan hubungan antara kejernihan hati ( mensucikan batin ) dengan kebersihan lahir.?

Hubungan antara keduanya sangat erat sekali dan kebersihan lahir itu menunjukan kesucian batin pepatah mengatakan :

“ Lahir itu menunjukan batinya”

13. Agama menganjurkan agar semua penganutnya selalu bersih jasmani dan suci rohaninya ( jernih hatinya ) Tulislah dasarnya !

dasarnya Alloh Berfirman :

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat (mensucikan batin) dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri (mensucikan lahir) -.(Al-Baqoroh ayat : 222).

14. Perhatikan pernyataan di bawah ini!

a. Tidaklah sempurna iman seseorang, kecuali jika ia memandang bahwa kebersihan lahir dan kesucian batin itu sebagai hal yang penting dan pokok”.

Rosululloh SAW bersabda :

“Kebersihan itu sebagian dari iman !”

b. Kebersihan lahir dan kesucian batin adalah pangkal kesehatan jasmani dan rohani.

15. Bagairnana cara menjaga kebersihan lahir dan apa alatnya !

Cara menjaga kebersihan lahir antara lain : mandi, bersuci, mencuci, menyapu. Alatnya seperti : air, sabun, sikat, sapu dll.

16. Perhatikan pernyataan di bawah ini !

Bersuci (THOHAROH) dari hadats dan najis perlu sekali kita pelajari dengan teliti tata caranya, karena sebagian besar tata cara ibadah, lahirnya harus keadaan suci dari hadats dan suci dari najis.

17. Bagaimana Cara pemeliharaan jasmani dan rohani ?

Untuk memelihara jasmani adalah dengan menjaga kesehatan. Adapun cara memelihara / menjaga kesehatan jasmani dan rohani adalah sebagai berikut :

Jasmani :

a.Memelihara kebersihan badan dan lingkungan.

b.Makan makanan yang bergizi.

c.Berolah raga dan beristirahat dengan teratur.

d.Berobat bila sakit.

Rohani :

a.Menjaga kesucian batin.

b.Menuntut ilmu yang bermanfaat.

c.Memberi makanan rohani dengan pengabdian diri dan kesadaran kepada Alloh wa Rasuulallohi SAW.

d.Bermujahadah.

18. Bagaiman hubungan antara kesehatan jasmani dengan kesehatan rohani?

Hubungan kesehatan jasmani dan kesahatan rohani sangat erat sekali, sebagaimana pepatah mengatakan :

“Akal / rohani yang sehat terletak didalam jasad yang sehat”.

MENSANAA AND CORPORESANO ‘Di dalam tubuh yang sehat terdapat Jiwa yang sehat “.

Biografi Muallif Sholawat Wahidiyah, Pengasuh Pengajian Al-Hikam

KH. Abdul Madjid Muallif Sholawat Wahidiyah

I. Kelahiran dan masa Kanak-kanak

KH. Abdul Madjid QS. Wa RA. Lahir dari pernikahan Syekh Mohammad Ma’roef pendiri pondok pesantren Kedunglo dengan Nyai Hasanah putri Kyai Sholeh Banjar Melati Kediri.

KH. Abdul Madjid QS. Wa RA, lahir pada hari Jum’at Wage malam 29 Ramadhan 1337 H atau 20 Oktober 1918 sebagai putra ke tujuh dari sembilan bersaudara. Beliau lahir di tengah pesantren yang luas dan sepi dikelilingi rawa-rawa dengan jumlah santri yang tidak pernah lebih dari empat puluh orang yaitu KEDUNGLO.

Ketika masih baru berusia dua tahun oleh bapak ibunya, beliau dibawa pergi haji ke Mekkah Al Mukaromah. Di Mekkah, setiap memasuki jam dua belas malam Kyai Ma’roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dibawah Talang Mas. Di sana Kyai Ma’roef berdoa agar bayi yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang sholeh hatinya. Begitu juga di tampat-tempat mustajabah lainnya. Kyai Ma’roef selalu mendoakan beliau agar menjadi orang yang sholeh.

Konon selama berada di Mekkah, beliau juga di khitan disana dan akan diambil anak oleh salah seorang ulama Arab dan disetujui oleh Kyai Ma’roef, tatapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliau tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.
Cerita bahwa beliau akan diangkat sebagai anak oleh ulama Mekkah memunculkan sebuah ungkapan “Kalau bukan karena Kyai Madjid maka Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir, dan kalau bukan karena Nyai Hasanah Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir di bumi Kedunglo”.

Sepulang dari Mekkah, muncul kebiasaan unik pada diri beliau, Beliau yang masih dalam usia tiga tahun (balita), hampir di setiap kesempatan berkata, “Qul dawuha siro Muhammad” sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Kebiasaan semacam itu terus berlangsung hingga beliau memasuki usia tujuh tahun.

Kebiasaan lain beliau semasa kanak-kanak adalah suka menyendiri, kurang suka bergaul dan sangat pendiam, beliau hanya mau bermain dengan mbak Ayunya Romlah dan mbak Ayunya ini pula yang mengajari beliau baca tulis Al qur’an untuk pertama kali.

Sifat pendiam dan tidak suka memamerkan keistimewaan yang dimiliki terus dibawa beliau hingga memasuki usia remaja. Karena sifat pendiam beliau inilah hingga tidak ada yang tahu keistimewaan-keistimewaan beliau di masa kanak-kanak dan remajanya.

Walaupun secara lahiriyah tidak tampak istimewa dibanding dengan Gus Malik adiknya yang pandai dan sering menampakkan kekeramatannya. Dan Gus Malik pula yang bertindak sebagai wakil ayahnya apabila Kyai Ma’roef tidak ada atau sedang berhalangan, hingga tidak sedikit yang menyangka bahwa Gus Malik lah calon penerus Kyai Ma’roef. Akan tetapi pada hakikatnya, Kyai Ma’roef telah mempersiapkan Agus Madjid sebagai penggantinya sejak beliau baru di lahirkan. Terbukti, meski masih berusia dua tahun, ayahnya telah membawa pergi haji. Padahal kita semua tahu bagaimana kondisi transportasi dan akomodasi jamaah haji di tahun 1920-an. Sungguh sulit, penuh rintangan dan melelahkan belum lagi kondisi cuaca alam tanah Arab yang berbeda jauh dari kondisi di Indonesia, dan itu ditempuh berbulan-bulan lamanya.

Bukti lain bahwa beliau dipersiapkan sebagai calon pengganti ayahnya, adalah setiap mendekati bulan haji. Kyai Ma’roef selalu kedatangan tamu dari kalangan Sayyid dan Sayyidah dari jazirah Arab. Saat itulah, sambil menggendong Agus Madjid, Nyai Hasanah berkata kepada tamunya,”Niki ndoro Sayyid yugo kulo njenengan suwuk, dados tiyang ingkang sholeh atine.” (ini tuan Sayyid, doakan anak saya agar menjadi orang yang sholeh hatinya).

Pernah suatu hari saat Kyai Ma’roef sedang bepergian, datang seorang Habib hendak bersilahturrahmi. Karena Kyai Ma’roef tidak ada, si tamu minta dipanggilkan Agus Madjid katanya mau didoakan. Karena Agus Madjid sedang bermain dan belum mandi, maka abdi dalem membawa Gus Malik yang sudah rapi untuk menemui tamu tersebut. “Wah, ini bukan Agus Madjid, tolong bawa Agus Madjid kemari!” kata si habib kepada abdi dalem.

II. Pada Masa Remaja

Memasuki usia sekolah, beliau sekolah di Madrasah Ibtida’iyah namun hanya sampai kelas dua. Selanjutnya, Kyai Ma’roef mengantar beliau mondok ke Jamsaren Solo pada Kyai Abu Amar. Genap tujuh hari di Jamsaren. Beliau dipanggil gurunya disuruh kembali ke Kedunglo “Wis Gus panjenengan kondur!”, sambil dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya. Beliau menuruti perintah Kyai Abu Amar meski dengan pikiran penuh tanda tanya kembali ke Kediri. Setiba di rumah, ternyata ayahnya yang mengantarkan beliau mondok masih belum kembali sementara yang diantarkan sudah kembali.

Terdorong akan jiwa muda yang ingin menimba ilmu pengetahuan. Beliau kemudian mondok ke Mojosari Loceret Nganjuk. Namun setelah hari ke tujuh beliau dipanggil Kyai Zainudin gurunya. “Gus sampeyan sampun cukup, mboten usah mondok kundor mawon, wonten dalem kemawon”. (Gus anda sudah cukup, tidak usah mondok pulang saja, di rumah saja). Beliau pun kembali pulang ke Kediri dan matur kepada ayahnya kalau gurunya tidak bersedia memberinya pelajaran.
“Wis kowe tak wulang dewe, sak wulan podho karo sewu wulan”. (Kalau begitu kamu saya ajari sendiri, satu bulan sama dengan seribu bulan). Ujar Kyai Ma’roef.
Maka setelah empat belas hari mondok di Jamsaren dan Mojosari, gurunya adalah ayahnya sendiri Kyai Ma’roef yang telah mewarisi ilmu Kyai Kholil dari Bangkalan. Oleh ayahnya setiap selesai sholat Maghrib beliau diajari aneka macam ilmu yang diajarkan dipondok pesantren maupun ilmu yang tidak diajarkan di pondok pesantren. Sehingga Kyai Ma’roef pernah berkata kepada adik Gus Madjid “Madjid itu tidak kalah dengan anak pondokan”.

Tak heran kalau pada akhirnya beliau tumbuh sebagai pemuda yang sangat alim dan wara’. Ibarat padi semakin tinggi ilmunya beliau semakin tawadhu dan pendiam sehingga siapapun tidak pernah menyangka kalau di balik kediamannya tersimpan segudang ilmu pengetahuan dan sejuta keistimewaan. Tapi, itulah keistimewaan beliau yang tidak pernah menunjukkan keistimewaan dan karomah-karomahnya kepada sesamanya.

III. Masa Dewasa

  a. Pernikahan

Ketika berusia 27 tahun dan hampir menguasai seluruh ilmu ayahnya, beliau semakin tampak dewasa dan matang. Tidaklah heran jika banyak gadis yang mengidamkan beliau. Karena disamping beliau dikenal sebagai putra kyai yang masyur dan makbul doanya, beliau adalah sosok pemuda alim berwajah tampan nan rupawan bagaikan rembulan.

Namun dari sekian gadis, pitri-putri yang mendambakan dipersunting beliau, akhirnya pilihannya jatuh pada gadis bernama Shofiyah yang baru berusia 16 tahun putri K. Moh. Hamzah dengan Umi Kulsum, buyut KH. Mansyur pendiri kota Tulung Agung yang mendapat tanah perdikan dari Sultan Hamengkubuwono II karena telah berhasil mengeringkan sumber Tulung Agung dan kini menjadi alun-alun kota Tulung Agung.

Semula, beliau dijodohkan dengan sepupunya sendiri yaitu “Nyai Zainap” putri KH. Abdul Karim Manaf dari Lirboyo (yang akhirnya dinikahi oleh KH. Mahrus Lirboyo). Tetapi saat ditawari akan dinikahkan dengan saudara sepupunya yang cantik dan pintar itu beliau hanya diam saja. Meski tidak mendapat jawaban yang pasti dari beliau, antar pihak Kedunglo dan Lirboyo sepakat akan menikahkan keduanya.
Kemudian diselenggarakan upacara akad nikah putra dan putri kyai yang masih kerabat dekat dan sama-sama pernah menjadi santri Kyai Kholil Bangkalan ini, dengan menyembelih lima ekor kambing.

Tetapi entah kenapa, ketika Pak Naib meng-akid, calon pengantin putra hanya diam saja tidak menjawab. Berkali-kali Pak Naib mengucapakan ijab tetapi tidak mendapat jawaban qobul dari Agus Madjid. Maka mengertilah bahwa beliau tidak mau dinikahkan dengan Nyai Zainab saudara sepupunya tersebut.

Setelah pernikahan antar kerabat tersebut batal, beliau ditawari kembang dari Tawangsari kota Tulung Agung oleh Yusuf santri ayahya yang tidak lain adalah paman si gadis. Beliau setuju dan melihat si gadis tersebut sedang memetik beberapa kuntum bunga Melati dari balik jendela di bawah menara masjid. Si gadis itu tidak lain adalah Nyai Shofiyah putri ke tujuh dari dua belas bersaudara.

Pernikahan antara Kyai Abdul Madjid dengan Nyai Shofiyah dikaruniai empat belas anak, yaitu : Ning Unsiyati (Almh), Ning Nurul Isma, Ning Khuriyah(Almh), Ning Tatik Farikhah, Agus Abdul Latif, Agus Abdul Hamid, Ning Fauziah(Almh), Ning Djauharotul Maknunah, Ning Istiqomah, Agus Moh.Hasyim Asy’ari(Alm), Ning Tutik Indiyah, Agus Syafi Wahidi Sunaryo, Ning Khuswatun Nihayah dan Ning Zaidatun Inayah.

  b. Kepribadian dan Kehidupan Berumah Tangga

Beliau mempunyai kepribadian yang sangat mempesona. Menurut penuturan orang-orang yang hidup sejaman beliau, akhlak Mbah Yahi Abdul Madjid QS wa RA adalah biakhlaqi Rasulillah. Berbadan sedang dengan warna kulit putih bersih. Berhidung mancung agak tumpul dan berbibir bagus agak lebar dengan garis bibir tidak jelas yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai tingkat kesabaran yang luar biasa. Matanya cekung dengan kelopak dan pelipis mata ke dalam bak gua menunjukkan bahwa beluai seorang yang mempunyai pemikiran yang tajam dan dalam. Di antara kedua matanya terdapat urat halus dan lurus sebagai pertanda beliau Mbah Yahi Madjid mempunyai otak briliyan. Tangannya halus dan lembut selembut hatinya yang pemaaf. Kalau berjalan beliau melangkah dengan pelan tapi pasti dengan sorot mata mengarah kebawah. Terkadang beliau juga menoleh ke kanan/ke kiri untuk melihat situasi dan keadaan jamaah.

Kalau bicara tenang dan santai disertai senyum, beliau juga sering melontarkan kalimat-kalimat canda yang membuat beliau dan tamunya tertawa. Beliau juga bebicara dengan jawami’ kalam, artinya kata-kata yang dituturkannya mengandung makna yang banyak, karena beliau mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan ringkas dan padat. Beliau juga mampu memberikan makna yang banyak dalam satu ucapan yang dituturkannya. Beliau juga mengucapkan kata-kata dengan jelas, tidak lebih dan tidak kurang dari yang dikehendaki. Beliau memperhatikan sungguh-sungguh kepada orang yang berbicara dengannya.

Disamping itu beliau dikenal sangat dermawan. Tak jarang tamunya yang sowan dan tampak tidak punya ongkos buat pulang diberi ongkos oleh beliau. Pernah juga beliau memberi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan. Ada pula seorang pengamal yang ingin tahu keramatnya beliau, ketika si tamu pamit pulang beliau memberikan jubahnya kepada si tamu tersebut.

Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian badannya. Baju yang telah dipakai sekali tidak di pakai lagi. Karena tidak heran kalau beliau sering mencuci pakaiannya sendiri bahkan juga menguras jedingnya sendiri. Dalam masalah ini beliau pernah mengungkapkan rumah itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.

Bila marah, beliau Cuma diam. Hanya roman mukanya yang sedikit berubah. Kalau beliau mau berbicara pertanda bahwa marahnya sudah hilang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Perihal marah ini Mbah Nyahi sebagai orang terdekat yang telah menemani beliau lebih dari 40 tahun menuturkan. “Kalau beliau kurang berkenan kepada saya, atau ada kesalahan yang telah saya lakukan tetapi saya kurang menyadarinya, beliau hanya diam saja dengan roman muka sedikit berubah tidak seperti biasanya. Kalau Mbah Yahi sudah demikian, saya bingung dan sedih sekali. Begitu besarkah kesalahan saya di mata beliau? kemudian satu persatu saya koreksi kesalahan apa yang telah saya lakukan sehingga beliau tidak menegur saya. Semakin saya koreksi, saya merasakan terlalu banyak kesalahan yang telah saya perbuat sehingga saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sendiri. Namun itu tidak berlangsung lama, sebentar kemudian beliau menegur saya dan selanjutnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”

Dari sini kita tahu bahwa kehidupan rumah tangga beliau jauh dari perselisihan dan tidak pernah terjadi pertengkaran. Kalaupun ada kesalahan yang telah dilakukan, masing-masing sibuk mengkoreksi kesalahannya sendiri. Itulah Mbah Yahi, yang sering berfatwa agar para pengamal lebih sering “nggrayahi jithoke dewe” (mengoreksi kesalahannya sendiri), ketimbang mengurusi kesalahan orang lain dan ternyata lebih dulu diterapkan pada keluarga beliau.

Kehidupan rumah tangga beliau adalah potret kehidupan rumah tangga harmonis dan sangat bahagia. Sebagai suami, beliau adalah sosok suami yang romantis, amat setia, mencintai dan menyayangi istri sepenuh hati. Meski sebagai putra kyai, beliau tidak segan-segan menghibur istrinya dengan mengajak menonton pasar malam seraya menggandeng tangan Mbah Nyahi bahkan beliau juga menggendong Mbah Nyahi apabila menjumpai jalan yang licin atau kubangan-kubangan di tengah jalan. “Kalau kami jalan berdua, Mbah Yahi itu tidak pernah melepaskan tangan saya. Beliau selalu menggandeng tangan saya. Kemana-mana selalu kami lakukan berdua. Bahkan untuk mencari hutangan kalau kami tidak punya uang, kami mencari bersama-sama”. Tutur Mbah Nyahi saat menceritakan kemesraan Mbah Yahi.

Dalam kehidupan sehari-hari Mbah Yahi Madjid QS wa RA, sebagaimana yang dikatakan Mbah Nyahi RA, beliau adalah manusia biasa seperti manusia lainnya. Beliau mencuci baju sendiri dan kerap kali mencucikan baju Mbah Nyahi atau baju putra-putrinya yang tertinggal di kamar mandi pribadi beliau. Beliau selalu membantu Mbah Nyahi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalau Mbah Nyahi akan memasak sayur santan, beliau yang memarut kelapanya dan Mbah Nyahi yang membuat bumbunya. Beliau juga membantu mengasuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil, memandikan, mendandani bahkan menyuapi.

Kalau persediaan padi hasil panenan habis, beliau memanen sayuran kangkung yang beliau tanam sendiri, lalu di jual ke pasar oleh Mbah Nyahi untuk dibelikan beras. Tak jarang beliau sekeluarga hanya makan sayur kangkung saja. Dalam kehidupan rumah tangga Mbah Yahi dulu, tidak mempunyai apa-apa sama sekali sudah biasa. Dan kondisi semacam itu diterima dengan tabah, sabar dan ikhlas oleh Mbah Nyahi.

Melihat kondisi Mbah Yahi sekeluarga yang sangat sederhana dan apa adanya tersebut. Pak Haji Alwan merasa kasihan dan berkata kepada Mbah Yahi, “Romo Kyai Ma’roef itu orangnya ampuh dan apa-apa yang beliau inginkan, Kyai Ma’roef tinggal berdo’a mohon keapada Allah langsung diijabahi”. Tapi apa jawab Mbah Yahi.

“Pak Haji Alwan, kalau bapak dulu dengan berdoa langsung diijabahi oleh Allah, sedangkan saya ndak usah berdoa, hanya krenteg(terbetik) dalam hati saja langsung diijabahi oleh Allah, tapi saya tidak mau”.

Jawaban Mbah Yahi QS wa RA di atas mengingatkan kita kepada Rasulullah SAW, saat Malaikat Jibril merasa sangat prihatin menyaksikan kehidupan harian Rasulullah makhluk terkasih di sisi Allah yang hidup sangat sederhana, sehingga Malaikat Jibril menawari Rasulullah hendak mengubah gunung menjadi emas. “Biarlah saya begini, sehari lapar sehari kenyang. Ketika aku lapar , aku bisa mengingat Tuhanku dan menjadi orang yang sabar. Dan ketika aku kenyang, aku bisa memuji Tuhanku dan menjadi hamba yang bersyukur”. Itulah jawaban manusia termulia di muka bumi ini.
Dalam menerima tamu beliau juga tidak pilih-pilih atau tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas atau sebaliknya, beliau selalu menerima dan menghormati tamu yang datang kepada beliau dengan memperlakukan para tamu dengan baik dan bertutur kata dengan bahasa yang halus (boso/dengan krama inggil bahasa jawa).

Mbah Yahi QS wa RA pada awal-awal penciptaan Sholawat Wahidiyah, senantiasa prihatin. Beliau prihatin karena urusan-urusan penting yang sedang dihadapinya. Keprihatinan beliau bukanlah berkaitan dengan masalah khusus mengenai diri beliau, melainkan yang berhubungan dengan masyarakat jami’al alamin.

Hal lain mengenai beliau adalah setiap orang yang memandang beliau akan merasakan kesejukan yang merasuk ke dalam hati. Dan siapapun yang beliau pandang hatinya pasti bergetar.

c. Aktivitas Keorganisasian

Sebelum mentaklif Sholawat Wahidiyah beliau adalah adalah aktifis NU (Nahdatul Ulama) sebuah organisasi terbesar di Indonesia. Ketika usia remaja beliau aktif di Anshor dan di Kepanduan (sekarang Pramuka) milik NU. Beliau juga gemar berolah raga khususnya sepak bola. Jadi meskipun beliau telihat sangat pendiam dan nampak kurang pergaulan, tetapi kenyataannya beliau adalah seorang yang luwes dalam pergaulan. Keaktifannya di NU terus berlanjut meski beliau sudah menikah. Beliau pernah menjabat sebagai Pimpinan Syuriah NU kec. Mojoroto tahun 1948 dan Syuriah NU cabang Kodya Kediri. Namun setelah beliau mentaklif Sholawat Wahidiyah dan ajarannya tahun 1963 beliau tidak lagi aktif di organisasi tersebut.

Dalam memimpin organisasi beliau juga sangat bijaksana, pernah suatu saat diadakan rapat pimpinan di Bandar Lor, yang hadir ada lima orang dan salah satu di antaranya adalah Bapak Alwi Bandar Lor. Dalam rapat tersebut beliau mendawuhkan “Nopo sampun podo setuju?”(apa semua sudah setuju?) lalu para tamu mengatakan setuju kemudian diam, lalu beliau berkata “Terus kados pundi?” (Lalu bagaimana?) dan anehnya untuk tinggal mengetok atau mengakhiri sampai lama sekali , sehingga dapat disimpulkan bahwa beliau dalam memutuskan hasil musyawarah tidak langsung memvonis tetapi dengan menunggu pendapat dari anggota musyawarah.

IV. Menyusun (menta’lif) Sholawat Wahidiyah

Pada tahun 1963 Beliau mulai melaksanakan tugas membina mental masyarakat dengan suatu alat mutakhir yang beliau gunakan, yaitu bacaan sholawat Nabi SAW.  Pada tahun itu pula dengan petunjuk dari Alloh Beliau menyusun rangkaian doa shlawat yang diberi nama SOLAWAT WAHIDIYAH Uraian lebih lengkapnya tentang Sholawat Wahidiyah, Ajaran Wahidiyah, dan Penyiar Sholawat Wahidiya, kunjungi : http://sholawat-wahidiyah.co.cc, http://wahidiyah.tk, http://gerbangsadar.webs.com,

V. Peristiwa Penting Pada Awal Penyiaran  Wahidiyah

Pada Tahun 1964, Mbah Yahi menyelenggarakan resepsi ULTAH sholawat Wahidiyah yang Pertama dan disebut EKAWARSA sekaligus khitanan Agus Abdul Hamid dan selapan harinya Ning Tutik Indiyah dengan mengundang Pembesar Ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur, disamping keluarga dan kaum muslimin lainnya. Hadir sebagai tamu antara lain : KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rois “Am Nahdhatul Ulama dan pengasuh Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras Jombang), KH. Machrus Ali (Syuriah NU Wilayah Jatim dan Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri), KH. Abdul Karim Hasyim (putra pendiri NU dan pengasuh pesantren Tebu Ireng Jombang) dan KH. Hamim Djazuli (Gus Mik) (putra pendiri Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri).

Kesempatan baik tersebut dipakai oleh Mbah Yahi untuk menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada segenap hadirin. “Permisi saya mempunyai amalan Sholawat Wahidiyah apakah panjenengan mau saya beri ijazah?” Kata Mbah Yahi dalam sambutannya. Spontan yang hadir menjawab “Kerso”(mau), diantara hadirin ada yang berdiri dan ada pula yang setengah berdiri. Saat itu pula Kyai Wahab Hasbullah spontan berdiri sambul mengacungkan tangannya dibarengi ucapan yang lantang. “Qobiltu awwalan, Qobiltu awwalan”(Saya terima duluan).

Sementara itu KH. Wahab Hasbullah dalam sambutannya antara lain mengatakan, “Hadirin….ilmu Gus Abdul Madjid dalam sekali, ibarat sumur begitu sedalam sepuluh meter, sedang saya hanya memiliki ukuran satu koma dua meter saja, Sholawatnya Gus Madjid ini akan saya amalkan”.
Setelah itu beliau semakin gencar dalam menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan membentuk sebuah organisasi yang bernama “PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” yang diketuai oleh bapak KH. Yassir dari Jamsaren Kediri.

Pernah pada suatu saat beberapa ulama utusan Partai NU cabang Kediri bersama-sama bersilahturahmi kepada beliau mohon penjelasan tentang Sholawat Wahidiyah beliaupun menjelaskan dengan jawaban yang singkat dan tepat. Beberapa pertanyaan yang diajukan diantaranya: “Sholawat Wahidiyah itu prinsipnya apa? Dasarnya apa dan menurut Qoul yang mana? Dengan tegas beliau menjawab. “Sholawat Wahidiyah itu susunan saya sendiri”. Para tamu kembali bertanya, “apa benar, Kyai mengatakan kalau orang yang membaca Sholawat Wahidiyah itu sama dengan ibadah setahun?” Di jawab oleh Mbah Yahi, “Oh, bukan begitu. Saya hanya mendapat alamat, kalau membaca Sholawat “Allohumma kamma Anta Ahluh…..” itu sama dengan ibadah setahun. Begitu itu, ya tidak saya jadikan hukum. Adalagi keterangan lain, “Orang membaca Sholawat badawi sekali sama dengan khatam dalil sepuluh kali”. Para tamu masih terus bertanya, “Apa benar Kyai, kalau tidak mengamalkan sholawat Wahidiyah itu tidak bisa makrifat?. Itukan menjelek-jelekkan thoriqoh, menafikkan thoriqoh?” Dengan tegas dan lugas beliau menjawab, “Bukan begitu, masalah jalannya makrifat itu banyak”. Setelah itu para tamu tidak bertanya-tanya lagi.

Suatu ketika Muallif juga memberikan penjelasan mengenai Sholawat Wahidiyah di Dk. Mayan desa Kranding kec. Mojo kab. Kediri di hadapan para Kyai se-kecamatan Mojo Selatan. Yang hadir pada saat itu antara lain KH. M. Djazuli Pengasuh Penpes Al Falah ploso. Dalam khutbah iftitahnya beliau Muallif Sholawat Wahidiyah mengucapkan : “Alhamdulillahi aataanaa bilwahidiyyati bifadli robbina”.

Sebelum Wahidiyah disebarkan secara umum. Beliau mengirimkan Sholawat Wahidiyah yang ditulis tangan oleh K. Muhaimin (Alm) santri Kedunglo, kepada para ulama Kediri dan sekitarnya disertai surat pengantar yang beliau tanda tangani sendiri. Sejauh itu tak satupun kyai yang dikirimi Sholawat mempersoalkan Sholawat Wahidiyah. “Semua doa sholawat itu baik”. Begitu komentar para kyai waktu itu.

Kalau pada akhirnya muncul pengontras-pengontras Wahidiyah, oleh Mbah Yahi pengontras itu justru dipandang sebagai kawan seperjuangan bukan sebagai lawan. Sebab dengan adanya pengontras tersebut mendorong pengamal jadi lebih giat dalam bermujahadah dan sesungguhnya para pengontras itu ikut menyiarkan Wahidiyah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Karena dengan adanya pengontras itu, orang yang semula belum tahu Wahidiyah menjadi tahu. Mereka juga ikut andil dalam perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rasulihi SAW.

VI. Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah tanggal 7 dan 9 Mei 1986

Kurangnya keserasian kerja diantara lembaga yang didirikan oleh Muallif yaitu: Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat (PSW Pusat) dan Dewan Pertimbangan Perjuangan Wahidiyah (DPPW) yang ingin terus mencampuri urusan teknis operasional PSW Pusat, sehingga muncul berbagai masalah antara DPPW dan PSW Pusat. Sementara itu di Pondok Kedunglo juga muncul permasalahan-permasalahan yang melibatkan sebagian keluarga.

Dengan arif dan bijaksana Muallif Sholawat Wahidiyah RA membentuk suatu Team yang disebut “Team 3”, yang terdiri dari K. Ihsan Mahin, K Moh. Jazuli Yusuf dan H. Moh. Syifa. Team 3 ditugasi langsung oleh Muallif RA untuk mencari penyelesaian berbagai kasus dan permasalahan yang terjadi baik di lingkungan PSW Pusat dan DPPW maupun yang berhubungan dengan Pondok Kedunglo.

Ditunjuk Drs. Syamsul Huda sebagai Pejabat sementara wakil ketua PSW Pusat menggantikan K. Moh. Jazuli Yusuf.
Pada tanggal 7 Mei 1986 Muallif Sholawat Wahidiyah RA memberikan “wasiat” kepada Team 3 yang sowan (datang) melaporkan hasil-hasil kerjanya dan mohon petunjuk lebih lanjut. Ikut hadir mendengarkan Moh. Ruhan Sanusi, Ketua PSW Pusat waktu itu.

Tanggal 9 Mei 1986 Muallif Sholawat Wahidiyah RA menyampaikan wasiat tersebut diatas yang dihadiri  115 hadirin-hadirot dari pengurus PSW Pusat serta para anggota DPPW dan sebagian Pengurus PSW Kab/Ko serta pengamal Wahidiayh yang ada kaitannya dengan berbagai masalah. Mereka hadir atas undangan Team 3 dalam rangka persidangan menyelesaikan masalah yang terjadi pada waktu itu. Wasiat tersebut intinya adalah :

  1. Pondok Kedunglo adalah Hak Waris.
  2. SMP dan SMA Wahidiyah, di-ijinkan asal tidak mengganggu kehidupan pondok dan masjid Kedunglo dan tidak mengganggu perjuangan Wahidiyah.
  3. Soal Wahidiyah: Wahidiyah adalah seperti perjuangan Islam pada umumnya, bukan hak waris. Para Penyiar Sholawat Wahidiyah dan para Pengamal Wahidiyah adalah “wakil saya”(wakil beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA) “Al Wakil Atsiirul-Muwakkil”, “Muwakkil kuasa penuh”.
  4. “Segala perbuatan dan perkataan, maupun apa saja, yang merugikan perjuangan terutama, yang menjadikan fitnah, ini supaya dibuang sama sekali!”
  5. Menunjuk A.F. Baderi supaya duduk menjadi wakil ketua II, sehingga pimpinan PSW Pusat menjadi 3 (tiga orang, yaitu: Moh. Ruhan Sanusi, K. Moh. Jazuli Yusuf, dan A.F. Baderi. Menunjuk Drs. Imam Mahrus menjadi sekretaris I PSW Pusat dan Agus Imam Yahya Malik sebagai sekretaris II. (Ket: untuk lebih lengkapnya pembaca dapat mendengarkan kaset wasiat tersebut).

VII. Wafatnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Romo Yahi kurang sehat, beliau gerah (sakit), dan kabar itu segera menyebar keseluruh peserta resepsi Mujahadah Kubro di bulan Rojab tahun 1989. kontan saja resepsi Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW menjadi lain dari biasanya. Suasana syahdu terasa sangat melingkupi hari-hari Mujahadah Kubro. Apalagi pada malam pertama, kedua dan ketiga Mbah Yahi tidak mios (tidak hadir secara langsung ketempat acara) untuk menyampaikan fatwa dan amanat.

Pada malam terakhir, sebenarnya beliau sudah melimpahkan pengisian fatwa dan amanat kepada orang lain. Tetapi hadirin para pengamal Sholawat Wahidiyah sangat merindukan beliau hadir ditengah-tengah peserta untuk mendengarkan langsung fatwa terakhir beliau. kemudian wakil dari peserta menyampaikan kepada Mbah Yahi akan kerinduan dan kecintaan para pengamal kepada Mbah Yahi. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan fatwa dan amanat terakhirnya.

Syukur alhamdulillah, karena kasih sayang Mbah Yahi kepada para pengamal, beliau berkenan menyampaikan fatwa terakhir di malam terakhir pelaksanaan mujahadah kubro meski dari kamar dalem tengah. Pada kesempatan tersebut beliau meng-ijasahkan Sholawat Wahidiyah kepada seluruh hadirin untuk diamalkan dan disiarkan dengan kalimat, “ajaztukum bihadzihis sholawatil wahidiyyati fil amali wan nasyri”.

Setelah itu kondisi kesehatan beliau semakin menurun, walau demikian beliau masih juga berkenan mengisi pengajian Minggu pada dari dalem.

Begitulah beliau Mbah Yahi QS wa RA, di saat-saat akhir hayatnya beliau masih membimbing dan mentarbiyah pengikutnya.

Pada hari Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 atau 19 Rojab 1409 jam 10.30 WIB, beliau dipanggil menghadap sang Kholik Allah SWT.

WALLO A’LAM BISSHOWAB

LILLAH

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Lillah

LILLAH adalah tujuan dan maksud seseorang lahir bathin semata-mata niat ta’at mengabdikan diri kepada Alloh dalam semua amal yang ubudiyah maupun mu’amalah, melalui tatanan syari’at yang dibawa oleh Rosul SAW; baik perkara wajib, sunah dan mubah, karena firman Alloh dalam QS Al-Bayyinah 5 :

ومآ أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين

“Mereka tidak diperintah kecuali supaya agar menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan ihlas (Lillah)”.

Dan firman Alloh dalam QS Adz-Dzariyat 56 :

ومآ خلقت الجن والانس الا ليعبدون

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdi”.

Rosul SAW bersabda :

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى الحديث

(متفق عليه)

“Sesungguhnya semua amal itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya”. (Mutafaqun Alaihi)

Adapun bunyi hadist :”Innamal A’maalu” adalah semua amal syari’at badaniyah; baik berupa ucapan maupun amal perbuatan orang mu’min itu akan dihisab (dinilai) apabila ada niatnya, sebaliknya amal itu tidak akan dihisab apabila tanpa niat, dan tidak ada suatu amal kecuali dengan niat.

Pengertian Niat

Niat menurut bahasa adalah “Qhosdun” (maksud). Dan menurut syari’at adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan melakukan sesuatu itu. Adapun arti hadist yang berbunyi : “Seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya” adalah balasan amal. Apabila niatnya baik, maka balasannya adalah kebaikan (pahala), dan apabila niatnya jelek, maka balasanya kejelekan (tanpa pahala), dan niat orang mu’min itu lebih baik dari pada amalnya. Adapun ihlasnya niat itu Lillahi Ta’aala (hanya karena Alloh). Maka pintunya kebaikan itu dari baiknya niat dan pintu kejelekan dari jeleknya niat, karena niat itu kepala amal dan ia sebagai foundation (dasar), dan diatas foundation itu berdirinya sebuah bangunan.

Rosul SAW bersabda :

اخلصوا اعمالكم لله فان الله لا يقبل الا ما خلص له

(رواه الطبرانى عن الضحاك بن قيس)

“Ikhlaskan amalmu hanya kerena Alloh (Lillah), sebab Alloh tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.

Dalam hadist yang lain, Beliau SAW bersabda :

أخلص العمل لله يجزك منه القليل

(رواه الديلمى عن معاذ رضىالله عنه)

“Ikhlaskanlah amalmu, maka amal ikhlas yang sedikit saja sudah memadai (mencukupi) bagimu”.(HR Abu mansur dan Ad-Dailami)

Ikhlas menurut Imam Qhozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena Alloh. Begitu pula Syeh Zaini Dahlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah apabila ada kesamaan antara lahir dan batin seseorang dalam menjalankan amal; artinya secara lahir ia menjalankan amal perintah Alloh, dan hatinya niat karena Alloh. Maka ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.

Rosul SAW bersabda :

ما من عبد يخلص لله العمل اربعين يوما الا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه

(رواه ابن الجوزى وابن العدى عن ابى موسى الاشعرى رضىالله عنه)

“Tidak ada orang yang ikhlas beramal karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber nur hikmah dari dalam hatinya sampai ke lisannya”.

(HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary ra ).

Dan sabda SAW yang lain berbunyi :

من احب لله وابغض لله واعطى لله ومنع لله فقد استكمل الايمان

(رواه ابو داود والضياء عن ابى أمامة باسناد صحيح)

“Barangsiapa cinta karena Alloh (Lillah), benci karena Alloh, memberi karena Alloh dan menolak (tidak memberi) karena Alloh, maka sungguh telah sempurna imannya”.

(HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).

Ditegaskan pula dalam hadist SAW yang lain :

طوبى للمخلصين أولئك مصابيح الهدى تنجلى عنهم كل فتنة ظلمآء

(رواه ابو نعيم عن ثوبان)

“Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas. Mereka-mereka itulah sebagai lampu-lampunya petunjuk, dimana segala fitnah yang digambarkan sebagai kegelapan menjadi jelas bagi mereka”. (HR. Abu Nu’aim dari Tsauban)

Dengan demikian, maka wajib bagi seseorang ketika menjalankan amal untuk niat karena Alloh (Lillah). Apabila tidak demikian, pasti ia karena didorong oleh nafsu (Linafsi). Dan amal yang didorong oleh nafsu akan melahirkan riya’, sum’ah (ingin terkenal), riyasah (membanggakan amal), chubbul jahi wal maali wal madchi ( pamrih kedudukan, materi dan pujian) dan sebagainya. Padahal semua sifat tersebut sangat tercela menurut syari’at Rosul SAW, dan dapat menghancurkan pahala amal. Orang yang berbuat demikian termasuk orang beriman secara lisan, namun munafiq dalam amal, bahkan ia sebagai budak syaithon dan penipu Tuhan. Dan menurut Imam Qhozali “Semua amal dengan tujuan selain Alloh adalah campur dengan syirik, dan amal yang campur baginya tanpa pahala. Dan ikhlas adalah kebalikan dari syirik, maka barangsiapa yang tidak ikhlas, ia adalah musyrik, meskipun syirik itu bertingkat-tingkat”.

Rosul SAW bersabda:

قال تعالى: أنا أغنى الشركآء عن الشرك أنا غنى عن الذى فيه شركة لغيرى فمن عمل عملا أشرك فيه غيرى فأنا منه برئ

(ذكره الفقيه السمرقندى فى تنبيه الغافلين من حديث ابى هريرة رضىلله عنه)

“Alloh berfirman: “Aku adalah jauh dari persekutuan dan Aku cukup dengan diri-Ku sendiri tanpa persekutuan. Maka barangsiapa menyekutukan amal selain Aku, Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh ahli fiqh Syeh As-Samroqondy dalam kitab Tanbihul ghofilin dari hadist Abi Huroiroh ra).

Rosul SAW bersabda:

ان الله لا يقبل من العمل الا ما كان خالصا وابتغى به وجهه

(رواه النساء عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima dari suatu amal kecuali amal yang ikhlas, maka hendaklah kamu beramal ikhlas karena Alloh (Lillah)”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).

Diceritakan dalam kitab Tanbihul Ghofilin, ada seorang bertanya kepada Nabi SAW: “Yaa Rosulalloh di dalam apa keselamatan itu……? Rosul SAW menjawab: “Hendaknya kamu tidak menipu Alloh..! lalu ia bertanya lagi: “Bagaimana kami bisa menipu Alloh…..?. kemudian Rosul SAW bersabda: “kamu mengerjakan amal yang diperintah Alloh, dan kamu punya tujuan (niat) selain Alloh”.

Imam Qhozaly mengatakan bahwa “Ikhlas dalam amal itu hendaknya orang yang beramal tidak mengharapkan balasan di dunia maupun di akhirat”. Ini isyarah yang menunjukkan bahwa kemauan nafsu itu jahat, tergesa-gesa ingin berhasil, serta seseorang tidak lepas dari gangguan syaithon kecuali orang yang ikhlas. Alloh berfirman Qs Al-hajr 39-40 :

قال رب بما اغويتنى لأزينن لهم فى الأرض ولأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين

“Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siat di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas diantara mereka”.

Oleh sebab itu sungguh sia-sia golongannya para ahli ibadah (secara lahiriyah) mereka banyak membaca Al-Qur’an, melakukan sholat dan puasa, namun mereka selalu riya’, membangggakan amal dan tidak ikhlas. Padahal kepalanya amal itu tauhid; artinya seseorang tidak ibadah (mengabdi) kecuali hanya karena Alloh (Lillah), dan barangsipa mengikuti nafsunya (Linafsi), maka sungguh ia telah mempertuhan hawa nafsunya dan ia sebagai orang yang bertauhid (iman) secara lisan, tidak dengan hatinya. Dan tidak ada bedanya antara orang-orang yang ibadah karena nafsunya (linafsi) dengan orang yang menyembah berhala, karena keduanya sebagai pengabdi (penyembah), namun menyembah selain Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله

“Siapakah orang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang tidak mendapat petunjuk dari Alloh”.

Rosul SAW bersabda :

ابغض اله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى

(رواه الطبرانى عن ابى أمامة)

“Berhala-berhala sesembahan diatas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah).

Adapun orang yang luas pandangannya dan tinggi ilmunya, maka ia akan mempergunakan akal fikirannya dalam memahami sabda Nabi SAW yang berbunyi: “Innamal ‘A’maalu binniyat”. Dan ia akan menjadikan kandungan hadist tersebut sebagai bagian dari gerak dan diamnya, sehingga ia tidak melakukan dan meninggalkan amal, kecuali dengan niat yang baik dan tujuan yang benar; yaitu semata-mata niat karena Alloh (Lillah). Maka dengan demikian semua amal perbuatanya menjadi “Ibadah” dan balasan amalnya (pahala) itu akan menjadi haknya, serta kembalinya adalah taqorub (mendekatkan diri kepada Alloh).

Oleh sebab itu hendaklah kita punya niat yang baik di dalam melakukan amal perbuatan, sampai bisa membuat perkara mubah menjadi nilai ta’at (ibadah) kepada Alloh, karena perkara mubah itu bisa menjadi nilai ta’at dengan niat yang baik; yaitu Lillah. Dan di dalam perkara haram dan makruh, maka meninggalkannya harus niat karena diperintah Alloh (Lillah), sehingga akan berbeda dengan kefahaman orang bodoh yang menganggap bahwa kema’siatan bisa berubah menjadi ta’at dengan niat yang baik, karena berpedoman pada bunyi hadist “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”. Dan ia tidak menyadari bahwa sesunggunya kebaikan itu adalah perkara yang sudah diketahui kebaikannya secara hukum syari’at, maka bagaimana mungkin perkara jelek (ma’siat) bisa berubah menjadi perkara baik. Itu sangat mustahil dan jauh sekali…!

Rosul SAW bersabda:

الحلال ما أحل الله فى كتابه والحرام ما حرم الله فى كتابه وما سكت عنه مما عفى عنه

(رواه الترمذى والبيهقى والحاكم عن سلمان باسناد صحيح)

“Halal itu perkara yang sudah dihalalkan Alloh dalam kitab-Nya, dan haram adalah perkara yang sudah diharamkan Alloh dalam kitab-Nya. Dan perkara yang tidak dihukumi itu boleh dilakukan”. (HR. Turmudzi, baihaqi, Hakim dari Salman dengan sanad shoheh).

Beramal Karena Takut Dan Pengharapan

Lillah (ihklas) semata-mata karena dan untuk Alloh itu, bukan berarti menutup pintu harapan ingin terhadap pahala, surga dan sebagainya atau takut siksa neraka dan sebagainya. Kita harus ingin kepada hal-hal yang baik yang menguntungkan dan harus takut kepada hal-hal yang buruk yang merugikan. Akan tetapi di dalam kita ingin atau takut itulah yang harus kita niati ibadah Lillah, sebab kita memang diperintah supaya berharap kepada pahala, surga dan lain-lain, dan supaya takut kepada siksa neraka dan lain-lain. Jadi amal-amal ibadah kita apa saja seperti Sholat, puasa, baca Al-Qur’an, dzikir, baca Sholawat, menolong orang lain dan sebagainya jangan sampai didorong oleh rasa ingin atau takut, melainkan didorong oleh pengabdian diri, niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas tanpa pamrih “Lillahi Ta’aala”.

Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 29 :

وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون

“Sembahlah Alloh dengan meng-ikhlas-kan keta’atanmu kepada-Nya”.

Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 55 :

وادعوه خوفا وطمعا ان رحمت الله قريب من المحسنين

“Dan beribadahlah kepada Alloh dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Alloh itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Kerugiannya Orang Yang Tidak Lillah

Orang yang tidak Lillah, namanya Lighoirillah. Berbuat dan beramal tidak karena Alloh melainkan karena selain Alloh. Istilah Wahidiyah disebut Linafsi. Berbuat atau beramal hanya karena menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsunya. Kelihatan ta’at hanya pada lahiriyahnya saja. Sedang batinya adalah menuruti nafsu, berarti dia diperalat oleh nafsunya. Diperbudak nafsunya. Dengan kata lain dia mengabdi atau menyembah kepada hawa nafsunya sendiri !. dan orang yang demikian inilah yang termasuk golongan orang yang amal ibadahnya tidak diterima dan tidak mendapat petunjuk dari Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ط ان الله لا يهدى القوم الظلمين

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun ?. sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim”.

Nabi SAW bersabda :

ان الله تعالى لا يقبل من العمل الا ما كان له خالصا وابتغى به وجهه

(رواه النسائى عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima daripada amal kecuali amal yang sungguh-sungguh ikhlas (Lillah) semata-mata mengharap ridlo-Nya”. (HR. Nasa’i dari Abi Umamah).

Kesimpulannya orang yang beramal ibadah hanya menurut kemauan nafsunya, amal perbuatan apa saja berarti ia menyembah kepada nafsunya sendiri. Dia adalah hamba daripada nafsunya, dia mempertuhan nafsunya. Dan nafsu itu adalah yang paling dimurkai oleh Alloh, maka dengan sendirinya orang yang menjadi hamba nafsu itulah orang yang paling dimurkai Alloh.

Nabi SAW bersabda :

ابغض إله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى

(رواه الطبرانى عن ابى أمامة الباهلى)

“Berhala sesembahan di bumi yang paling dimurkai dan dikecam oleh Alloh adalah “hawa nafsu”. (HR. Tobroni dari Abi Umamah Al-bahili)

BILLAH

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Billah

BILLAH, artinya dalam segala kehidupan, gerak gerik kita atau perbuatan atau tindakan apa saja lahir batin, dimanapun dan kapanpun, supaya dalam hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah Alloh Maha pencipta. Jangan sekali-kali mengaku atau merasa bahwa kita mempunyai kemampuan sendiri.

Ini mutlak, dalam segala hal supaya merasa begitu. Baik dalam keadaan ta’at maupun ketika ma’siat, harus merasa Billah !. tanpa kecuali !. ini harus kita sadari !. karena sifat ma’ani dan ma’nawi adalah sifat wajib bagi Alloh dan muchal –tidak mungkin- bagi makhluk. Alloh berdiri sendiri, tidak membutuhkan dzat yang mendirikan, dan segala sesuatu selain Alloh adalah qooimun (berdiri) dengan Alloh (Billah). Maka tidak ada sesuatu di dalam wujud ini yang berdiri dengan dirinya sendiri kecuali hanya Alloh yang punya sifat Al-Chayyu Al-Qoyyum, berdiri dengan Dzat-Nya sendiri. Segala sesuatu yang hadist (baru) di alam semesta ini adalah perbuatan dan ciptaan Alloh. Tidak ada pencipta dan pembuat perkara baru kecuali hanya Alloh.

Alloh berfirman dalam QS As-Shoffat : 96 :

والله خلقكم وما تعملون

“Alloh-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa yang kamu sekalian perbuat”.

Oleh sebab itu meskipun perbuatan seseorang itu kasab (tampak usahanya sendiri), perbuatan itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Alloh. Maka tidak terjadi pula ada suatu kegiatan di alam dunia dan alam malakut dalam sekejap mata dan sekedip pandangan kecuali dengan kepastian, keputusan dan kehendak Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Ibrohim 4 :

فيضل من يشاء ويهدى من يشاء

“Alloh menyesatkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki”.

Alloh berfirman dalam QS At-Takwir 29 :

وما تشاءون الا ان يشاء الله رب العالمين

“Tidaklah kamu sekalian berkehendak, melainkan Alloh Tuhan semesta alma yang berkendak”.

Alloh berfirman dalam QS Al-Anfal 17 :

وما رميت اذ رميت ولكن الله رمى

“Dan tidaklah kamu melempar ketika kamu melempar, akan tetapi Alloh-lah yang melempar”.

Apabila seseorang telah menyadari yang demikian, maka ia akan mengetahui tentang hakikat, yang ada hanyalah Alloh dan tidak ada sesuatu yang bersama-Nya. Dan ketika itu pula akan terbuka bagi mata hatinya dengan menyadari bahwa sesungguhnya kekuasaannya adalah kekuasaannya Alloh, kehendaknya adalah kehendaknya Alloh, ilmunya adalah ilmunya Alloh, hidupnya adalah hidupnya Alloh, pendengaranya adalah pendengarannya Alloh, penglihatannya adalah penglihatannya Alloh dan bicaranya adalah bicaranya Alloh. Artinya, apabila ia berkuasa maka dengan kekuasaannya Alloh, berkehendak dengan kehendaknya Alloh, berilmu dengan ilmunya Alloh, hidup dengan hidupnya Alloh, mendengar dengan pendengarannya Alloh, melihat dengan penglihatannya Alloh dan berbicara dengan bicaranya Alloh; artinya “ BILLAH ”, sebagai penerapan kandungan kalimah “LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”.

Perasaan yang demikian itu harus diterapkan dan disadari dalam setiap keadaan dan setiap keluar masuknya nafas. Dan ketika sudah menyadari yang demikian itu, ia akan mengetahui bahwa semua sifat yang disandarkan kepada dirinya sebagaimana perkataan “kamu mengetahui”, “kamu mendengar” dan lain sebagainya, itu merupakan kata pinjaman dan majaz, dan penyandaranya kepada Alloh adalah melalui pandangan sebagai pemilik yang hakiki.

Rosul SAW bersabda :

يقول الله تعالى: لا يزال عبدى يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاذا أحببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصر به ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها الحديث

(رواه البخارى عن ابى هريرة رضىالله عنه)

“Alloh berfirman : “ Hamba-hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunah hingga sampai Aku mencintainya. Maka ketika Aku mencintainya, Aku jadi pendengarannya ketika ia mendengar, Aku jadi penglihatnnya ketika ia melihat, Aku jadi tangannya ketika ia memukul dan Aku menjadi kakinya ketika ia berjalan”. (HR. Bukhori dari Abi Huroiroh ra).

Dan segala sesuatu dari kebaikan secara syari’at, maka kita menyandarkan kepada Alloh itu karena penciptaan, dan menyandarkannya kepada diri kita karena penempatan (sebagai tempat amal). Adapun untuk perkara jelek maka kita menyandarkan kepada diri kita karena mengikuti penyandarannya Alloh kepada diri kita (Lillah/karena perintah Alloh). Sedangkan melalui pandangan hakikat, kepemilikan, penciptaan dan perwujudan maka segala sesuatu (perkara baik dan jelek) adalah dari sisi Alloh.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 78 :

وان تصبهم حسنة يقولوا هذه من عند الله, وان تصبهم سيئة يقولوا هذه من عندك, قل كل من عند الله

“Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata; ‘ini adalah dari sisi Alloh’, dan jika mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka berkata; ‘ini dari sisi kamu sendiri –Muhammad-. Katakanlah ‘Semua itu –datang- dari sisi Alloh”.

Penyandaran segala sesuatu kepada Alloh dalam firman-Nya yang artinya: “katakanlah segala sesuatu itu dari sisi Alloh” adalah menurut pandangan hakikat, karena sesungguhnya Alloh yang menciptakan dan yang mewujudkan. Adapun penyandaran perkara jelek kepada seorang hamba dalam firman-Nya : “ apa yang menimpa dirimu dari kejelekan, itu dari dirimu sendiri” adalah melalui pandangan majaz (kiasan). Contohnya seperti orang yang mengasuh seorang anak yang bukan anaknya sendiri. Ketika ia ditanya “Apakah ini anak saudara……?. Lalu ia menjawab “Ya”. Jawaban ini adalah pernyataannya lisan, namun hatinya menyaksikan dan menyadari bahwa sesungguhnya anak itu bukan anaknya sendiri. Dan pengakuannya bahwa anak itu anaknya sendiri adalah karena perintah dari orang tua anak itu yang sebenarnya. Maka apabila ia tidak merasa demikian, ia adalah pendusta, karena mengakui sesuatu yang bukan miliknya menurut hukum syari’at dan hakikat.

Kerugian orang yang tidak sadar Billah

Orang yang tidak sadar Billah, sekalipun ia masih beriman, dia tidak lepas dari bahaya musyrik = mempersekutukan Alloh. Sekalipun syirik khofi (samar-samar)

Alloh berfirman dalam QS Yusuf 106 :

وما يؤمن أكثرهم بالله الا وهم مشركون

“Dan sebagaian besar dari mereka tidak sadar BILLAH melainkan mereka masih mempersekutukan Alloh”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 16 :

ان الله لا يغفر ان يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء, ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا

“Sesungguhnya Alloh tidak memberi ampun sekiranya dipersekutukan dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa-dosa lain selain dosa syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sungguh ia tersesat sejauh-jauhnya”.

Alloh berfirman dalam QS Al-Alaq 6-7 :

كلا ان الانسان ليطغى, ان رآه استغنى

“Ketahuilah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”.

Yang dimaksud ayat ini adalah manusia benar-benar lacut dan kufur, karena melihat dirinya merasa cukup dengan dirinya sendiri, jauh dari Alloh (Binafsi). Maka semua orang yang berkeyakinan bahwa dia merasa cukup dengan dirinya sendiri (Tidak Billah) dalam sekejap mata, niscaya dia telah benar-benar lacut dan kufur, karena semua makhluk adalah membutuhkan Alloh dalam gerak dan diamnya (tidak bergerak dan diam kecuali hanya dengan Alloh, tidak dengan dirinya sendiri). Oleh sebab itu wajib bagi setiap orang mukallaf untuk mempelajari dan mengamalkan Ilmu Billah agar dia tidak lacut dan kufur, karena niatnya orang yang lacut dan kufur akan menimbulkan riya’, ujub dan takabbur. Sehingga dia tidak melihat dirinya sendiri kecuali dengan pandangan kebesaran, dan melihat orang lain dengan pandangan merendahkan, bahkan tidak terlintas dalam gerak hatinya kecuali ada rasa “Aku lebih baik, lebih mengetahui, lebih taqwa dan lebih mulya dari pada kamu..dsb.

Alloh berfirman dalam QS An-Najm 32 :

فلا تزكوا انفسكم, هو اعلم بمن اتقى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah (Alloh) yang paling mengetahui tentang orang-orang yang taqwa”.

Alloh berfirman dalam QS Az-Zumar 65 :

ولقد أوحى اليك والى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخسرين

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada Nabi-nabi sebelummu: “Jika Engkau mempersekutukan Alloh (tidak sadar Billah), niscaya akan menjadi hapuslah amal-mu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang menderita kerugian”.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

ان قليل العمل ينفع مع العلم بالله وكثير العمل لا ينفع مع الجهل بالله

(رواه ابن عبد البر عن انس بن مالك)

“Sesungguhnya sedikit amal yang disertai sadar Billah itu bermanfaat adanya, dan sesungguhnya banyaknya amal yang dikerjakan dengan bodoh Billah (tanpa sadar Billah) itu tidak bermanfa’at adanya”. (HR. Ibnu Abdil Barri dari Anas Bin Malik)

Alloh berfirman dalam QS Al-Isro’ 39 :

ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى فى جهنم ملوما مدخورا

“Dan janganlah kamu sekalian menjadikan Tuhan disamping Alloh; yang demikian itu menyebabkan kamu akan dilemparkan kedalam neraka jahanam dalam keadaan terkutuk dan dijauhkan dari rahmat Alloh”.

Ilmu Billah kewajiban pertama

Imam Ghozali berkata :

“Semua manusia telah ditanami iman Billah, bahkan ditanami ma’rifat untuk mengetahui segala sesuatu menurut iman Billah. Oleh sebab itu mengajar manusia dengan ilmu Billah adalah tidak bertentangan dengan batasan hukum syari’at, bahkan lebih sesuai dengan pembawaan manusia itu sendiri”.

Alloh berfirman dalam QS Ar-Rum 30 :

فطرة الله التى فطر الناس عليها

“Tetaplah atas fitroh Alloh, yang menciptakan manusia menurut fitroh itu”.

Rosul SAW bersabda :

كل مولود يولد على الفطرة الحديث

(رواه البخارى )

“Semua bayi itu dilahirkan berdasarkan atas fitroh”. (HR. Bukhori)

Yang dimaksud fitroh adalah naluri atau pembawaan yang ada dalam jiwa seorang anak. Dan dengan fitroh itu ia telah siap untuk ma’rifat kepada Tuhannya. Maka mengajar seorang anak dengan ilmu Billah adalah tidak keluar dari batasan hukum syari’at, bahkan sangat sesuai dengan naluri dan pembawaannya. Karena apabila selama naluri dan pembawaan seorang anak itu tetap pada keadaannya, maka jiwanya akan tetap berada diatas kebenaran dan tuntunan agama islam, dan tidak ada yang menutupi jiwanya dari kebenaran dan tuntunan agama islam setelah ia dewasa, melainkan keragu-raguan yang ditanam oleh syaithon.

Sedangkan ma’rifat kepada Alloh itu adalah fardu a’in bagi orang yang sudah baliq, termasuk bagi seorang anak. Pendapat ini menurut para Ulama Madzab Hanafi dan Ulama Iraq. Karena kewajiban beriman bagi orang baliq itu dengan mengambil pengertian akal. Maka apabila seorang anak sudah berakal, maka wajib bagi dirinya untuk ma’rifat kepada Alloh. Oleh sebab itu belajar ilmu Billah adalah fardu a’in, bahkan menjadi kewajiban pertama bagi setiap orang mukallaf, karena bodoh Billah adalah haram, sedangkan ma’rifat Billah adalah wajib. Dan ibadah kepada Alloh itu terhenti pada ma’rifat, maka orang yang tidak ma’rifat kepada Alloh ia termasuk orang yang tidak ibadah kepada-Nya. Sebab firman Alloh QS. Adz-Dzariyat 56: artinya “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar supaya mereka beribadah”, menurut Ibnu Abbas mempunyai pengertian “kecuali agar supaya mereka ma’rifat”. Maka orang yang tidak ma’rifat kepada Alloh hukumnya sama saja dengan tidak ibadah. Padahal iman (keyakinan) itu mengikuti (didahului) oleh ma’rifat, maka bagaimana kita akan menyembah Alloh yang kita tidak ma’rifat (mengenal) kepada-Nya, dan ketika kita meyakini Alloh dan sifat-sifat-Nya dengan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, maka ibadah kita seperti debu yang dihambur-hamburkan angin tidak ada gunanya.

Kewajiban Penerapan Lillah Billah

Lillah Billah itu syari’at dan hakikat. Ibarat berlakunya dhohiriyah dan bathiniyah. Amal Lillah adalah amal yang memenuhi hukum lahiriyah, sedangkan amal Billah memenuhi hukum bathiniyah.

Oleh sebab itu kewajiban seseorang itu ada dua perkara. Pertama, menjalankan perintah dalam lahiriyah; yaitu ta’at karena perintah Alloh. Kedua, bergantungan dengan Alloh dalam bathin; yaitu merasa butuh kepada Alloh dari pada selain-Nya. Dan salah satu dua perkara tersebut tidak bisa terpisahkan dari pemiliknya sebagaimana kedudukannya islam dan iman. Maka Lillah Billah harus diterapkan serempak bersama-sama. Hanya Lillah saja tanpa Billah; berbahaya !. bahayanya yaitu antara lain ‘Ujub, riya’, takabbur dan sebagainya. Begitu juga hanya Billah saja tanpa Lillah, menjadi batal karena tidak menjalankan perintah dan menjauhi larangan Alloh.

Sebagaian Ulama berkata :

“Barangsiapa bersyari’at tanpa hakikat, ia adalah fasiq, dan barangsiapa berhakikat tanpa bersyari’at, ia adalah kafir zindiq (pura-pura iman)”.

Imam Abu Abdillah Malik ibnu Anas berkata :

“Barangsiapa berfiqh tanpa bertasawuf, ia adalah fasiq, dan barangsiapa bertasawuf tanpa berfiqh, ia adalah zindiq, dan barangsiapa melaksanakan keduanya, maka ia adalah sebagai orang yang benar-benar beragama islam”.

Dan menurut kitab syarah Hikam Ibnu Ibad bahwa semua amal yang tidak ada keikhlasan didalamnya; yaitu tidak dijiwai Billah dan Lillah, maka amal tersebut akan dikembalikan dan dipukulkan kewajah orang yang beramal.

LIRROSUL

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

LIRROSUL

Disamping niat ibadah Lillah seperti penjelasan diatas, supaya disertai dengan niat Lirrosul; yaitu niat ta’at dan mengikuti tuntunan Rosul SAW. Asal, bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 63 :

وما ارسلنا من رسول الا ليطاع باذن الله

“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul, malinkan untuk dita’ati dengan se-idzin Alloh”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nur 56 :

واطيع الرسول لعلكم ترحمون

“Dan ta’atlah kepada Rosul, supaya kamu diberi rahmat”.

Rosul SAW bersabda :

فاذا نهيتكم من شئ فاجتنبوه واذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

(متفق عليه)

“Jika aku mencegahmu dari sesuatu maka jauhilah sesuatu itu, dan jika aku memerintahmu sutau perkara maka kerjakanlah menurut kemampuanmu”.

لا يؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

(رواه الترمذى)

“Belum sempurna seseorang diantara kamu sekalian, sehingga hawa nafsunya mengikuti pada apa yang sebab itu aku diutus”. (HR. Turmudzi).

Pengertian mengikuti itu ada dua. Pertama, mengikuti aqwaal (ucapan). Kedua, mengikuti af’al (perbuatan). Mengikuti ucapan adalah mengikuti apa yang diperintahkan matbu’ (orang yang diikuti) meliputi; perintah, larangan dan tarqib (motivasi/dorongan). Sedangkan mengikuti amal perbuatan adalah mengikuti semua amal-amal dan tatakrama Nabi SAW, selain perkara yang sudah menjadi sifat khusu Nabi SAW menurut ketetapan dalil, maka pada perkara khusus itu tidak ada perintah mengikuti.

Adapun mengikuti pada perintah ada tiga; Wajib, sunah dan jawaz. Mengikuti perintah wajib adalah mengerjakan semua kewajiban seperti; sholat lima waktu dan menjauhi semua larangan yang diharamkan seperti; minum khomer. Sedangkan mengikuti perintah sunah adalah mengerjakan perkara yang disunahkan seperti; sholat sunah sesudah sholat fardhu serta menjauhi perkara yang dimakruhkan seperti; meninggalkan perkara-perkara yang disunahkan dalam sholat. Adapun mengikuti perintah jawaz (boleh dikerjakan, boleh tidak) adalah mengerjakan semua perkara yang diperbolehkan seperti; makan dan minum.

Adapun mengikuti meninggalkan larangan ada dua; haram dan makruh. Mengikuti meninggalkan larangan haram seperti; zina dan minu khomer. Mengikuti meninggalkan larangan makruh seperti; makan dan minum sambil berdiri.

Sedangkan mengikuti pada tarqib (motivasi/dorongan) terbagi dua; yaitu dorongan dalam melakukan keta’atan dan dorongan dalam meninggalkan ma’siat. Adapun mengikuti dorongan kata’atan seperti; senang dengan pahala, surga dan menambah nilai ta’at. Sedangkan mengikuti dorongan meninggalkan ma’siat seperti; menyadari adanya ancaman dan siksa atas perbuatan ma’siat.

Semua perbuatan mengikuti tersebut diatas bisa bernilai ibadah apabila ada niat mengikuti tuntunan Rosul SAW. Dan apabila tidak ada niat seperti itu, maka tidak akan bernilai ibadah, meskipun ada amal yang terkadang dinilai syah tanpa niat seperti; adzan dan membaca Al-Qur’an sebagaimana syahnya meninggalkan ma’siat tanpa niat, namun semua itu tidak bernilai ibadah dan tanpa pahala.

Ibnu Abbas ra berkata :

“Sesungguhnya keta’atanmu kepada Nabi Muhammad itu bernilai keta’atanmu kepada Alloh. Maka apabila kamu menta’ati Alloh dan menetang Nabi Muhammad, niscaya keta’atanmu tidak diterima”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 8 :

ومن يطع الرسول فقد اطاع الله

“Barangsiapa ta’at kepada Rosul, maka ia benar-benar ta’at kepada Alloh”.

Rosul SAW bersabda :

ومن اطاع محمدا فقد اطاع الله ومن عصى محمدا فقد عصىالله ومحمد فرق بين الناس

(رواه البخارى)

“Barangsiapa menta’ati Muhammad, maka sungguh ia telah ta’at kepada Alloh, dan barangsiapa menentang Muhammad, maka sungguh ia telah menetang Alloh. Muhammad itu berbeda diantara manusia”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 69 :

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا

“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’amat oleh Alloh; yaitu para nabi, Shodiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Hakikat “mengikuti” atau “taat” menurut kitab Taqribul Usul hal 55 :

حقيقة المتابعة رؤية المتبوع عند كل شئ ومع كل شئ وفى كل شئ المراد بها رؤية الشهود

Hakikat “mengikuti” yang sesungguhnya adalah melihat “Yang diikuti” pada segala sesuatu, dan disamping, dan di dalam segala sesuatu”.

Dengan demikian, penerapan Lirrosul disamping Lillah adalah menjadikan kita semakin banyak ingat kepada Rosul SAW disamping ingat kepada Allph. Semakin banyak ingat kepada kanjeng nabi SAW otomatis akan semakin membuat seseorang lebih berhati-hati di dalam menjalankan tuntunannya dalam segala bidang. Dan orang yang selalu berhati-hati dan konsekwen dalam menjalankan tuntunan dan sunahnya, maka ia akan termasuk sebagai orang yang disebutkan oleh sabda Beliau SAW :

من احيا سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة

(رواه السجزى عن انس بن مالك)

“Barang siapa yang menghidup-hidupkan sunahku, maka sungguh ia telah mencintai aku; dan barangsiapa yang mencintai aku, maka ia akan bersama-sama dengan aku di surga”.

Orang yang selalu menghidupkan sunah Beliau SAW berarti ia disebut “Ahli Sunnah” atau “Ahli Sunnah Wal Jama’ah”, karena dapat diartikan pula bahwa sunnah adalah tata cara atau perilaku Nabi SAW, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dalam hal aqidah, amal perbuatan dan ucapan. Dan menurut Ibnu mas’ud yang disebut jama’ah adalah suatu perkara yang sesuai dengan kebenaran (tuntunan Nabi SAW dan para sahabatnya) meskipun kamu (menjalankannya) seorang diri. Demikian pula Sufyan Atsauri berpendapat bahwa golongan besar itu adalah golongan “Ahli Sunnah Wal Jama’ah”, dan yang disebut golongan ahli sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang menjalankan kebenaran meskipun ia seorang diri (dalam menjalankannya). Oleh sebab itu Abu Sa’amah berpesan : “Apabila telah datang kepadamu suatu perintah kewajiban berjama’ah, maksudnya kewajiban menegakkan kebenaran dan melaksanakannya, meskipun yang memegang (melaksanakan) itu hanya sedikit dan yang menentangnya banyak, karena sesungguhnya kebenaran itu adalah perkara yang dilakukan jama’ah pertama di zaman Rosul SAW dan para sahabatnya.

Oleh sebab itu apabila kita mengaku sebagai golongan Ahli Sunnah Wal Jama’ah, maka wajib menerapkan Lirrosul di dalam menjalankan semua perkara dan tuntunan Beliau Rosul SAW, karena apabila kita tidak niat Lirrosul, bagaiamana mungkin kita bisa dicatat sebagai pengikut Rosul SAW dan disebut Ahli Sunnah wal Jama’ah yang hakiki. Sangat jauh sekali dan mustahil.

BIRROSUL

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

BIRROSUL

adalah penyaksian amal perbuatan yang diridloi Alloh dan Rosul-Nya serta menyadari semua ni’mat lahir batin yang dirasakan; baik ni’mat beragama, ni’mat di dunia maupun di akhirat adalah sebab perantaraan, syafa’at dan bimbingan Rosul SAW. Maka disamping penerapan Billah seperti diatas harus menerapkan Birrosul. Akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti Billah. Melainkan terbatas dalam so’al-so’al yang tidak dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya. Jadi dalam segala hal apapun, segala gerak gerik kita lahir batin, asal bukan hal yang dilarang, disamping sadar Billah kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rosul SAW.

Alloh berfirman dalam QS Ali Imron 103 :

وكنتم على شفا خفرة من النار فأنقذكم منها

“Dan kamu sekalian sudah berada ditepi jurang neraka kehancuran, kemudian Alloh menyelamatkan kamu sekalian dari padanya”. (dengan diutusnya Rosul SAW).

Alloh berfirman dalam QS Al-Anfal 23 :

ما كان الله معذبهم وانت فيهم

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada diantara mereka”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 64 :

ولو انهم اذ ظلموا انفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Alloh, dan Rosul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang”.

Nabi SAW bersabda :

حياتى خير لكم ومماتى خير لكم, واما حياتى فاسن لكم السنن واشرع لكم الشرائع, واما مماتى فان اعمالكم تعرض علي فما رأيت منها حسنا حمدت الله عليه وما رأيت منها سيئا استغفرت الله لكم

(رواه البزارى عن ابن مسعود باسناد صحيح)

“Hidup dan matiku baik bagi kamu sekalian. Semasa aku hidup aku membuat sunah dan syari’at untuk kamu lakukan. Adapun semasa aku mati, maka semua amal perbuatanmu diperlihatkan oleh Alloh dihadapanku. Ketika aku melihat amalmu baik aku, maka aku memuji kepada Alloh, dan ketika aku melihat amalmu jelek, maka aku memohonkan ampun kamu sekalian kepada Alloh”. (HR. Al-Bazari dari Ibnu mas’ud dengan sanad shoheh).

Alloh berfirman dalam QS Asy-Syuro 82 :

وانك لتهدى الى صراط مستقيم

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

Alloh berfirman dalam hadist Qutsti :

لولاك لولاك لما خلقت الأفلاك

(الحديث)

“Seandainya tidak karena Engkau (Muhammad), niscaya Aku (Alloh) tidak menciptakan alam semesta”.

Rosul SAW bersabda :

كنت اول الناس فى الخلق وآخرهم فى البعث

(رواه ابن مسعود عن قتادة باسناد صحيح)

“Aku adalah manusia pertama yang diciptakan dan manusia terakhir yang diutus”.

Nabi SAW bersabda :

كنت نبيا وآدم بين الروح والجسد

(رواه ابن سعد عن ابى الحذعاء والطبرانى عن ابن عباس باسناد صحيح)

“Aku sudah menjabat Nabi ketika Nabi Adam masih dalam proses antara jasad dan ruh”. (HR. Ibnu Sa’din dari Ibnu Chudza’ai dan Tobroni dari Ibnu Abbas dengan sanad shoheh).

Apabila Beliau SAW adalah awalnya manusia yang diciptakan, bahkan sudah menjabat sebagai Nabi sebelum Alloh menciptakan nabi Adam, maka bimbingan dari ruhnya SAW adalah perkara yang boleh diterima secara akal dan syari’at. Karena bahwasannya ruhaniyahnya SAW itu sebagaimana jasadnya dalam memberikan bimbingan, pertolongan, petunjuk dimana saja dan kapan saja.

Syeh Ibnu Aroby berkata :

“Tidak ada diantara kita semua yang telah menerima ilmu di dunia ini kecuali ilmu itu adalah batiniyah Muhammad SAW; baik itu para nabi dan para Ulama salaf dan kholaf (dahulu dan sekarang)

Dengan demikian bahwa Beliau SAW adalah perntara yang agung bagi kita dalam mendapatkan ni’mat, maka kita wajib mulachadoh (memandang dengan pandangan batin) kepada Beliau SAW ketika mengerjakan amal bidang Lillah dan ketika merasakan semua ni’mat dengan disertai penyaksian bahwa semua amal perbuatan dan keni’matan itu adalah sebab Rosul (Birrosul); artinya sebab perantaraan, syafa’at dan bimbingan Rosul SAW. Dan cara yang demikian ini yang dinamakan syukur kepada Rosul SAW dengan disertai hudhurnya hati, mengagungkan dan menanamkan rasa cinta yang mendalam. Dan penerapan Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul ini sebagai realisasi penerapan ma’na dua kalimah syahadat secara hakiki.

Alloh berfirman dalam QS Ali Imron 31 :

ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم

“Apabila kamu (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah Aku niscaya Alloh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Oleh sebab itu barangsiapa menyangka bahwasannya dia bisa mencapai keridloan Alloh tanpa melalui Beliau SAW sebagai perantara dan wasilah, maka tersesatlah pendapatnya dan dan sia-sia usahanya. Demikian pula barangsiapa berkeyakinan bahwasanya Nabi SAW itu tidak bisa memberi manfa’at setelah wafatnya, bahkan Beliau SAW dianggap sebagai umumnya manusia, maka dia adalah orang yang tersesat dan menyesatkan. Na’udzu Billah Min syarrihim.

LILGHOUTS

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Ghouts.

“GHOUTS” menurut bahasa adalah “PERTOLONGAN”. Menurut istilah adalah kedudukan salah satu Waliyulloh yang diangkat sebagai pemimpin para waliyulloh (Sulthon Auliyaa’) atau Qothbun Aqthob pada zamannya, juga sebagai penuntun, pembimbing, dan penolong ummat. Penuntun kepada kebaikan, pembimbing kepada keselamatan dan kebahagiaan yang diridloi Alloh wa Rosulihi SAW dan penolong dari berbagai kesulitan, kesusahan dan seluruh hajat hidup umat.

Jadi Ghouts hadzaz zaman adalah pemimpin para Waliyulloh dan penolong ummat pada zaman sekarang. Kalimat “Ghouts” berebentuk isim masdar yang berma’na isim fa’il yang artinya “Penolong”.

Sedangkan pengertian “Ghouts” menurut Syeh Ahmad Al-Kamsyakhonawi An-Naqsyabandzi adalah ibarat tentang QUTBUN ADZIMUN (pemimpin yang agung), ROJULUN AZIZUN (hamba yang mulya) dan SAYYIDUN KARIMUN (pemimpin yang mulya) yang dibutuhkan oleh manusia untuk meyingkap rahasia-rahasia hati yang penting. Dan Beliau juga sebagai hamba yang sangat diharapkan do’anya, karena do’anya sangat mustajab. Seandainya beliau sumpah kepada Alloh, tidak pernah mendustainya sebagaimana Uwais Al-Qorny yang hidup di zaman Beliau Rosul SAW.

Pribadi seorang Ghouts Zaman itu termasuk perkara yang dirahasiakan oleh Alloh. Dirahasiakannya itu karena untuk menjaga keselamatannya dan keselamatan ummat terutama mereka yang tidak menyadari atau tidak mengakui atas kedudukan Beliau.

Sebagaian Ulama’ Arifin berkata dalam kitab Syawahidul Haq hal 195:

وقد سترت احوال الغوث وهو القطب عليه السلام عن العامة والخاصة غيرة من الحق تعالىعليه

“Sungguh dirahasiakan perilaku (ahwal) nya Ghouts Al-Quthub dari orang-orang umum dan khusus, karena Alloh Yang Maha Benar tidak senang terhadap bahaya yang menimpa dirinya”.

Dan dikatakan :

ويكون تظاهرهم بالاستغال بالعلم الكسبى حجابا عليهم لكون القطب من شأنه الخفاء

“Dan keadaan lahiriyah mereka (para Ghouts) ialah menyibukkan diri seperti umumnya Ulama’ lain dalam bidang ilmu kasbi (ilmu syari’at) untuk merahasiakan kedudukannya, karena sebagian dari keadaan Quthbi itu memang dirahasiakan”.

Maka tanda-tanda atau ciri-ciri secara lahir para Ghouts fi zamanihi itu tidak mencolok, yang jelas Beliau-beliau adalah sebagai pejuang kebenaran dan kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosulihi SAW sebagaimana sabda Nabi SAW :

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة

(رواه الحاكم عن عمر رضىالله عنه )

“Dikalangan umatku senantiasa tidak sepi dari adanya “Thoifah” (kelompok) yang memperjuangkan kebenaran sampai datangnya hari qiyamat”.

Adapun secara batiniyah, para Ghouts memiliki ciri-ciri khas, antara lain seperti yang disebutkan dalam kitab Jami’ul Usul hal 4 :

1. قلبه يطوف الله دائما

2. له سر يسرى فى العالم كما يسرى الروح فى الجسد او كما يسرى الماء فى الشجر

3. وهو حمل هموم اهل الدنيا

  1. Hatinya selalu thowaf kehadirat Alloh SWT.
  2. Beliau memiliki sirri yang dapat menerobos keseluruh alam seperti meratanya roh dalam jasad atau seperti menerobosnya air dalam pepohonan.
  3. Beliau menanggung (memprihatinkan) kesusahan/kesulitan makhluk di dunia.

Kerugiannya bagi yang tidak percaya kepada Ghouts zaman

Orang yang tidak percaya pada sesuatu, pasti ia akan meremehkan, merendahkan dan mengingkari sesuatu itu. Dan mengingkari sesuatu yang sudah jelas ada dasar hukumnya adalah kufur. Maka tidak mempercayai bahkan mengingkari keberadaan Ghouts zaman yang jelas-jelas sebagai Waliyulloh adalah kufur, bahkan akan menjadi musuh Alloh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Qutsi :

عن ابى هريرة رضىالله عنه عن النبي صلىالله عليه وسلم قال: ان الله عز وجل يقول: من آذى لى وليا فقد آذنته بالحرب

(رواه البخارى) قوله آذنته اى اظهرت بمحاربتى (التبيان)

“Dari Abi Huroiroh ra dari Nabi SAW bersabda: “bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman : “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka sesungguhnya Aku akan memusuhinya”. (HR. Bukhori).

Syeh Muhammad Al-Kholily berkata :

واعلم ان الاعتراض على القوم يعنى الصوفية (الاولياء) مما يوجب الخذلان فيوفع فاعله فى واد من الخسران

(شواهد الحق :142)

“Ketahuilah bahwasanya mengingkari kaum Syufi (para Wali Alloh) itu, termasuk perilaku yang mengakibatkan kehinaan, sehingga pelakunya akan terjerumus kedalam jurang kerugian (kehancuran)”.

Syeh Ibnu Hajar berkata :

فمن اعترض عليهم (اى على الأولياء) يخثى عليه سوء الخاتمة كما وقع لكثير من الناس انهم مقتوا بذلك ولم يفلحوا

(شواهد الحق : 142)

“Barangsiapa mengingkari para Waliyulloh, maka dikhawatirkan akan su’ul khotimah (pada waktu sakaratul mautnya) seperti orang-orang yang telah melakukan hal tersebut. Mereka dimurkai oleh Alloh SWT, dan tidak bisa bahagia (di dunia dan di akhirat)”.

Syeh Dawud bin Makhola berkata :

من دخل الدنيا ولم يصادف رجلا كاملا يربيه خرج منها متلوثا بالكبائر وان كان بعبادة الثقلين

(تقريب الاصول)

“Barangsiapa memasuki (hidup) di dunia ini tidak menemukan seorang pembesar Wali yang sempurna yang membimbingnya kearah kesadaran kepada Alloh, niscaya dia akan keluar dari dunia ini (meninggal dunia) dengan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya sebanyak ibadahnya bangsa jin dan manusia”.

Oleh sebab itu, mari kita berhati-hati di dalam memandang dan menilai kepada orang yang menjadi kekasih Alloh. Karena sekali saja kita merendahkan dan mengingkarinya, niscaya kita akan dimurkai oleh Alloh. Maka yang lebih baik, kita harus tetap percaya akan keberadaannya Waliyulloh yang menjabat Ghouts di zaman ini, meskipun kita tidak mengetahui siapa orangnya. Yang penting kita yakin dengan mengetrapkan “Lil-Ghouts Bil-Ghouts”. Karena orang yang mau berhubungan (hubungan batiniyah) dengan Ghouts, niscaya akan mendapatkan kuntungan/ faidah yang agung.

Keuntungan bagi orang yang berhubungan dengan Ghouts

1. Disebutkan dalam kitab Jami’ul Usul hal 48 :

قلب العارف حضرة الله وحواسه ابوابها فمن تقرب اليه بالقرب الملائم له فتحت له ابواب الحضرة

“Hatinya orang Arif Billah (Ghouts) itu merupakan “Hadlrotulloh” dan panca inderanya sebagai pintu-pintunya hadlroh. Maka barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Beliau dengan pendekatan yang serasi dengan kedudukan Beliau, akan terbukalah baginya pintu-pintu hadlroh (kesadaran kepada Alloh SWT)”.

2. Disebutkan dalam kitab Taqribul Usul hal 48 :

العارف أثره فى الآخذين عنه بأمداده وانواره اكثر من أثر فيهم بأذكارهم وأعمالهم

“Hasil tarbiyahnya (bimbingan) orang Arif Billah (Ghouts) dalam hatinya orang-orang yang mengambil darinya, dengan pertolongan dan anwarnya itu lebih banyak dari pada hasilnya dzikir dan amal perbuatan mereka sendiri”.

3. Disebutkan dalam kitab Taqribul usul hal 51 :

لو ان عارفا بالله فى مشرق الشمس ينطق بحقيقة ورجل يحب له فى مغربها كان له نصيب من ذلك على حسب وتهذيب محبته

“kalau ada orang Arif Billah ditempat terbitnya matahari mengajarkan tentang hakikat, dan salah satu orang yang mencintainya berada di tempat terbenamnya matahari, maka dia tetap menerima bagian dari yang dikatakan Beliau yang sesuai dengan bagian dan kemurnian rasa cintanya kepada Beliau”.

4. Dikatakan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1 hal 5 :

قال صلىالله عليه وسلم: تعلموا علم اليقين. ومعناه: جالسوا الموقنين واستمعوا منهم علم اليقين وواظبوا على الإقتداء بهم ليقوى يقينكم كما قوى يقينهم لانه قليل من اليقين خير من كثير من العمل

“Nabi SAW bersabda : “Belajarlah kamu semua tentang ilmu yakin (ilmu kesadaran kepada Alloh SWT). Maksudnya : “Duduklah kamu sekalian bersama orang-orang yang memiliki keyakinan (kesadaran) dan dengarkan dari mereka tentang ilmu yakin, dan senantiasa ikutilah mereka agar keyakinan (kesadaranmu) menjadi kuat seperti kuatnya kesadaran mereka. Sebab sedikitnya keyakinan itu lebih baik daripada banyaknya amal”.

5. Disebutkan dalam kitab Tafrihil Khothir hal 44-45 :

من تحير فى أمر وتوسل الى الغوث يبدل الله عسره باليسر ويخلص العجز ويناله فرح وسرور

“Barangsiapa mengalami kebingungan / kesulitan dalam suatu urusan, dan dia mau tawassul (istighotsah) kepada Beliau Ghouts, maka kesulitannya akan diganti oleh Alloh dengan kemudahan dan akan dihilangkan kelemahannya serta menerima kesenangan dan kebahagiaan”.

Mengikuti bimbingan Ghouts -Lil-Ghouts –

Lil-Ghouts adalah seseorang niat mengikuti bimbingannya Ghouts dalam semua amal dan perbuatan, disamping niat Lillah dan Lirrosul seperti yang telah dijelaskan diatas. Karena sesungguhnya Ghouts adalah orang yang lebih sempurna ma’rifatnya kepada Alloh wa Rosulihi SAW dan pembesar ummat dalam setiap zaman serta sebagai pewaris Nabi SAW yang sempurna. Maka barangsiapa yang mengikuti bimbingan Ghouts dengan niat karena perintah Alloh dan Rosululloh SAW (Lillah dan Lirrosul), ia telah tercatat sebagai orang yang ta’at kepada Alloh dan Rosululloh SAW, karena Alloh berfirman :

واتبع سبيل من أناب الي

(لقمان 15)

“Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepada-Ku”. (Luqman ; 15)

Dalam firman yang lain berbunyi:

ياايها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

(التوبة 119)

“Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah ; 119)

Rosul SAW bersabda :

لا تزال أمتى بخير ما أخذوا العلم عن اكابرهم

(اخرجه ابو نعيم)

“Umatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka memperoleh ilmu dari Ulama-ulama besar mereka”. (dikeluarkan oleh Abu Nu’aim)

Dikatakan dalam kitab Khozinatul Asror dan Nurul Burhan hal 401 :

كن مع الله فان لم تكن فكن مع من كان مع الله فانه يوصلك الى الله ان كنت معه

“Besertalah kamu dengan Alloh. Jika kamu tidak bisa, besertalah dengan orang yang beserta dengan Alloh, karena sesungguhnya ia dapat menyampaikan kamu (menuntun sadar) kepada Alloh jika kamu beserta dengannya”.

Rosul SAW bersabda:

لا تجلسوا عند كل عالم الا عالما يدعوكم من خمس الى خمس: من الشك الى اليقين ومن الرياء الى الإخلاص ومن الرغبة الى الزهد ومن الكبر الى التواضع ومن العداوة الى النصيحة

(رواه ابو نعيم عن جابر)

“Janganlah kamu semua duduk (mengikuti) di depan (kepada) setiap orang yang ‘Alim kecuali yang benar-benar ‘Alim yang membimbing kamu dari (meninggalkan) lima perkara untuk menuju (melakukan) lima perkara; dari ragu-ragu (tidak iman) menuju yaqin (sadar dan iman Billah), dari riya’ menuju ikhlas, dari cinta dunia menuju zuhud, dari takabur menuju rendah hati dan dari permusuhan menuju persahabatan”.

BILGHOUTS

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

 BILGHOUTS

adalah “Mulachadhotul Ghouts” (memandang dengan pandangan bathin) kepada Ghouts dalam semua amal; baik amal bidang Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul dengan merasa melalui bimbingan Ghouts. Karena sesungguhnya Ghouts adalah washithoh (perantara) antara kita dan Rosul SAW dalam mendapatkan petunjuk, bimbingan, pertolongan dan hidayah. Juga sebagai wasilah (jembatan) kita menuju kepada Alloh dan Rosul SAW dalam semua hajat, karena Beliau adalah orang yang mustajab permohonannya dan sempurna dalam menampakkan sifat ahadiyah dzat-Nya Alloh.

Syeh Abdul Wahab Asy-Sya’roni berkata:

“tidak ada tempat menampakkan sifat Ahadiyah Dzat-Nya Alloh kecuali manusia yang kaamil (sempurna), bahkan ia adalah orang yang lebih sempurna bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW dalam semua hajat, karena ia sebagai pewaris Nabi SAW secara sempurna”.

Syeh Abul Abbas ra berkata:

“Maqom salik tidak bisa sempurna, kecuali setelah bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW sebagaimana muroja’ah (dialog) nya seorang murid dengan gurunya”.

Maka dalam kitab Yawaqit juz 1 hal 72, disebutkan: “Apabila telah syah (benar dan nyata) bagi seorang wali mengambil pelajaran langsung dari Nabi SAW tanpa melalui perantara, maka ia telah syah menjadi mursyid memberi petunjuk ummat Muhammad, dan menduduki tempat permohonannya ummat kepada Alloh Yang Maha Agung, dengan menempati hukum penggantinya Rosululloh SAW”.

Maka wajib bagi kita bersyukur kepada Ghouts dengan merapkanan Bil-Ghouts. Karena meskipun kita menyadari bahwasanya Alloh sendiri yang memberi pertolongan, namun hukum syari’at mewajibkan kita mensyukuri perantaraannya. Maka penerapan Bil-Ghouts adalah wujud syukur kepadanya, dengan memandang semua ni’mat yang telah sampai kepada kita sebab perantaraan Beliau.

Rosul SAW bersabda:

التحدث بنعمة الله شكر وتركها كفر ومن لا يشكر القليل لا يشكر الكثير ومن لا يشكر الناس لا يشكر الله والجماعة بركة والفرقة عذاب

(رواه البيهقى عن النعمان بن بشير)

“Tachadus Bini’matillah (membicarakan ni’mat Alloh) merupakan wujud syukur, dan meninggalkannya adalah kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak bisa mensyukuri yang banyak. Dan barangsiapa tidak syukur kepada mansia, maka ia tidak syukur kepada Alloh. Jama’ah (bersatu) adalah membawa barokah, sedangkan perpecahan membawa adzab”. (HR. Baihaqi dari Nu’man bin Basyir).

Hello world!

Posted: November 29, 2010 in Lembaran Sholawat Wahidiyah

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!