Archive for the ‘Ajaran Wahidiyah’ Category

LILLAH

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Lillah

LILLAH adalah tujuan dan maksud seseorang lahir bathin semata-mata niat ta’at mengabdikan diri kepada Alloh dalam semua amal yang ubudiyah maupun mu’amalah, melalui tatanan syari’at yang dibawa oleh Rosul SAW; baik perkara wajib, sunah dan mubah, karena firman Alloh dalam QS Al-Bayyinah 5 :

ومآ أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين

“Mereka tidak diperintah kecuali supaya agar menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan ihlas (Lillah)”.

Dan firman Alloh dalam QS Adz-Dzariyat 56 :

ومآ خلقت الجن والانس الا ليعبدون

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdi”.

Rosul SAW bersabda :

انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى الحديث

(متفق عليه)

“Sesungguhnya semua amal itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya”. (Mutafaqun Alaihi)

Adapun bunyi hadist :”Innamal A’maalu” adalah semua amal syari’at badaniyah; baik berupa ucapan maupun amal perbuatan orang mu’min itu akan dihisab (dinilai) apabila ada niatnya, sebaliknya amal itu tidak akan dihisab apabila tanpa niat, dan tidak ada suatu amal kecuali dengan niat.

Pengertian Niat

Niat menurut bahasa adalah “Qhosdun” (maksud). Dan menurut syari’at adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan melakukan sesuatu itu. Adapun arti hadist yang berbunyi : “Seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya” adalah balasan amal. Apabila niatnya baik, maka balasannya adalah kebaikan (pahala), dan apabila niatnya jelek, maka balasanya kejelekan (tanpa pahala), dan niat orang mu’min itu lebih baik dari pada amalnya. Adapun ihlasnya niat itu Lillahi Ta’aala (hanya karena Alloh). Maka pintunya kebaikan itu dari baiknya niat dan pintu kejelekan dari jeleknya niat, karena niat itu kepala amal dan ia sebagai foundation (dasar), dan diatas foundation itu berdirinya sebuah bangunan.

Rosul SAW bersabda :

اخلصوا اعمالكم لله فان الله لا يقبل الا ما خلص له

(رواه الطبرانى عن الضحاك بن قيس)

“Ikhlaskan amalmu hanya kerena Alloh (Lillah), sebab Alloh tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.

Dalam hadist yang lain, Beliau SAW bersabda :

أخلص العمل لله يجزك منه القليل

(رواه الديلمى عن معاذ رضىالله عنه)

“Ikhlaskanlah amalmu, maka amal ikhlas yang sedikit saja sudah memadai (mencukupi) bagimu”.(HR Abu mansur dan Ad-Dailami)

Ikhlas menurut Imam Qhozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena Alloh. Begitu pula Syeh Zaini Dahlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah apabila ada kesamaan antara lahir dan batin seseorang dalam menjalankan amal; artinya secara lahir ia menjalankan amal perintah Alloh, dan hatinya niat karena Alloh. Maka ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.

Rosul SAW bersabda :

ما من عبد يخلص لله العمل اربعين يوما الا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه

(رواه ابن الجوزى وابن العدى عن ابى موسى الاشعرى رضىالله عنه)

“Tidak ada orang yang ikhlas beramal karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber nur hikmah dari dalam hatinya sampai ke lisannya”.

(HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary ra ).

Dan sabda SAW yang lain berbunyi :

من احب لله وابغض لله واعطى لله ومنع لله فقد استكمل الايمان

(رواه ابو داود والضياء عن ابى أمامة باسناد صحيح)

“Barangsiapa cinta karena Alloh (Lillah), benci karena Alloh, memberi karena Alloh dan menolak (tidak memberi) karena Alloh, maka sungguh telah sempurna imannya”.

(HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).

Ditegaskan pula dalam hadist SAW yang lain :

طوبى للمخلصين أولئك مصابيح الهدى تنجلى عنهم كل فتنة ظلمآء

(رواه ابو نعيم عن ثوبان)

“Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas. Mereka-mereka itulah sebagai lampu-lampunya petunjuk, dimana segala fitnah yang digambarkan sebagai kegelapan menjadi jelas bagi mereka”. (HR. Abu Nu’aim dari Tsauban)

Dengan demikian, maka wajib bagi seseorang ketika menjalankan amal untuk niat karena Alloh (Lillah). Apabila tidak demikian, pasti ia karena didorong oleh nafsu (Linafsi). Dan amal yang didorong oleh nafsu akan melahirkan riya’, sum’ah (ingin terkenal), riyasah (membanggakan amal), chubbul jahi wal maali wal madchi ( pamrih kedudukan, materi dan pujian) dan sebagainya. Padahal semua sifat tersebut sangat tercela menurut syari’at Rosul SAW, dan dapat menghancurkan pahala amal. Orang yang berbuat demikian termasuk orang beriman secara lisan, namun munafiq dalam amal, bahkan ia sebagai budak syaithon dan penipu Tuhan. Dan menurut Imam Qhozali “Semua amal dengan tujuan selain Alloh adalah campur dengan syirik, dan amal yang campur baginya tanpa pahala. Dan ikhlas adalah kebalikan dari syirik, maka barangsiapa yang tidak ikhlas, ia adalah musyrik, meskipun syirik itu bertingkat-tingkat”.

Rosul SAW bersabda:

قال تعالى: أنا أغنى الشركآء عن الشرك أنا غنى عن الذى فيه شركة لغيرى فمن عمل عملا أشرك فيه غيرى فأنا منه برئ

(ذكره الفقيه السمرقندى فى تنبيه الغافلين من حديث ابى هريرة رضىلله عنه)

“Alloh berfirman: “Aku adalah jauh dari persekutuan dan Aku cukup dengan diri-Ku sendiri tanpa persekutuan. Maka barangsiapa menyekutukan amal selain Aku, Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh ahli fiqh Syeh As-Samroqondy dalam kitab Tanbihul ghofilin dari hadist Abi Huroiroh ra).

Rosul SAW bersabda:

ان الله لا يقبل من العمل الا ما كان خالصا وابتغى به وجهه

(رواه النساء عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima dari suatu amal kecuali amal yang ikhlas, maka hendaklah kamu beramal ikhlas karena Alloh (Lillah)”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).

Diceritakan dalam kitab Tanbihul Ghofilin, ada seorang bertanya kepada Nabi SAW: “Yaa Rosulalloh di dalam apa keselamatan itu……? Rosul SAW menjawab: “Hendaknya kamu tidak menipu Alloh..! lalu ia bertanya lagi: “Bagaimana kami bisa menipu Alloh…..?. kemudian Rosul SAW bersabda: “kamu mengerjakan amal yang diperintah Alloh, dan kamu punya tujuan (niat) selain Alloh”.

Imam Qhozaly mengatakan bahwa “Ikhlas dalam amal itu hendaknya orang yang beramal tidak mengharapkan balasan di dunia maupun di akhirat”. Ini isyarah yang menunjukkan bahwa kemauan nafsu itu jahat, tergesa-gesa ingin berhasil, serta seseorang tidak lepas dari gangguan syaithon kecuali orang yang ikhlas. Alloh berfirman Qs Al-hajr 39-40 :

قال رب بما اغويتنى لأزينن لهم فى الأرض ولأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين

“Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siat di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas diantara mereka”.

Oleh sebab itu sungguh sia-sia golongannya para ahli ibadah (secara lahiriyah) mereka banyak membaca Al-Qur’an, melakukan sholat dan puasa, namun mereka selalu riya’, membangggakan amal dan tidak ikhlas. Padahal kepalanya amal itu tauhid; artinya seseorang tidak ibadah (mengabdi) kecuali hanya karena Alloh (Lillah), dan barangsipa mengikuti nafsunya (Linafsi), maka sungguh ia telah mempertuhan hawa nafsunya dan ia sebagai orang yang bertauhid (iman) secara lisan, tidak dengan hatinya. Dan tidak ada bedanya antara orang-orang yang ibadah karena nafsunya (linafsi) dengan orang yang menyembah berhala, karena keduanya sebagai pengabdi (penyembah), namun menyembah selain Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله

“Siapakah orang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang tidak mendapat petunjuk dari Alloh”.

Rosul SAW bersabda :

ابغض اله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى

(رواه الطبرانى عن ابى أمامة)

“Berhala-berhala sesembahan diatas bumi yang sangat dimurkai Alloh adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah).

Adapun orang yang luas pandangannya dan tinggi ilmunya, maka ia akan mempergunakan akal fikirannya dalam memahami sabda Nabi SAW yang berbunyi: “Innamal ‘A’maalu binniyat”. Dan ia akan menjadikan kandungan hadist tersebut sebagai bagian dari gerak dan diamnya, sehingga ia tidak melakukan dan meninggalkan amal, kecuali dengan niat yang baik dan tujuan yang benar; yaitu semata-mata niat karena Alloh (Lillah). Maka dengan demikian semua amal perbuatanya menjadi “Ibadah” dan balasan amalnya (pahala) itu akan menjadi haknya, serta kembalinya adalah taqorub (mendekatkan diri kepada Alloh).

Oleh sebab itu hendaklah kita punya niat yang baik di dalam melakukan amal perbuatan, sampai bisa membuat perkara mubah menjadi nilai ta’at (ibadah) kepada Alloh, karena perkara mubah itu bisa menjadi nilai ta’at dengan niat yang baik; yaitu Lillah. Dan di dalam perkara haram dan makruh, maka meninggalkannya harus niat karena diperintah Alloh (Lillah), sehingga akan berbeda dengan kefahaman orang bodoh yang menganggap bahwa kema’siatan bisa berubah menjadi ta’at dengan niat yang baik, karena berpedoman pada bunyi hadist “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”. Dan ia tidak menyadari bahwa sesunggunya kebaikan itu adalah perkara yang sudah diketahui kebaikannya secara hukum syari’at, maka bagaimana mungkin perkara jelek (ma’siat) bisa berubah menjadi perkara baik. Itu sangat mustahil dan jauh sekali…!

Rosul SAW bersabda:

الحلال ما أحل الله فى كتابه والحرام ما حرم الله فى كتابه وما سكت عنه مما عفى عنه

(رواه الترمذى والبيهقى والحاكم عن سلمان باسناد صحيح)

“Halal itu perkara yang sudah dihalalkan Alloh dalam kitab-Nya, dan haram adalah perkara yang sudah diharamkan Alloh dalam kitab-Nya. Dan perkara yang tidak dihukumi itu boleh dilakukan”. (HR. Turmudzi, baihaqi, Hakim dari Salman dengan sanad shoheh).

Beramal Karena Takut Dan Pengharapan

Lillah (ihklas) semata-mata karena dan untuk Alloh itu, bukan berarti menutup pintu harapan ingin terhadap pahala, surga dan sebagainya atau takut siksa neraka dan sebagainya. Kita harus ingin kepada hal-hal yang baik yang menguntungkan dan harus takut kepada hal-hal yang buruk yang merugikan. Akan tetapi di dalam kita ingin atau takut itulah yang harus kita niati ibadah Lillah, sebab kita memang diperintah supaya berharap kepada pahala, surga dan lain-lain, dan supaya takut kepada siksa neraka dan lain-lain. Jadi amal-amal ibadah kita apa saja seperti Sholat, puasa, baca Al-Qur’an, dzikir, baca Sholawat, menolong orang lain dan sebagainya jangan sampai didorong oleh rasa ingin atau takut, melainkan didorong oleh pengabdian diri, niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas tanpa pamrih “Lillahi Ta’aala”.

Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 29 :

وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون

“Sembahlah Alloh dengan meng-ikhlas-kan keta’atanmu kepada-Nya”.

Alloh berfirman dalam QS Al-A’rof 55 :

وادعوه خوفا وطمعا ان رحمت الله قريب من المحسنين

“Dan beribadahlah kepada Alloh dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Alloh itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Kerugiannya Orang Yang Tidak Lillah

Orang yang tidak Lillah, namanya Lighoirillah. Berbuat dan beramal tidak karena Alloh melainkan karena selain Alloh. Istilah Wahidiyah disebut Linafsi. Berbuat atau beramal hanya karena menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsunya. Kelihatan ta’at hanya pada lahiriyahnya saja. Sedang batinya adalah menuruti nafsu, berarti dia diperalat oleh nafsunya. Diperbudak nafsunya. Dengan kata lain dia mengabdi atau menyembah kepada hawa nafsunya sendiri !. dan orang yang demikian inilah yang termasuk golongan orang yang amal ibadahnya tidak diterima dan tidak mendapat petunjuk dari Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Al-Qoshos 50 :

ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ط ان الله لا يهدى القوم الظلمين

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun ?. sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dholim”.

Nabi SAW bersabda :

ان الله تعالى لا يقبل من العمل الا ما كان له خالصا وابتغى به وجهه

(رواه النسائى عن ابى أمامة)

“Sesungguhnya Alloh tidak menerima daripada amal kecuali amal yang sungguh-sungguh ikhlas (Lillah) semata-mata mengharap ridlo-Nya”. (HR. Nasa’i dari Abi Umamah).

Kesimpulannya orang yang beramal ibadah hanya menurut kemauan nafsunya, amal perbuatan apa saja berarti ia menyembah kepada nafsunya sendiri. Dia adalah hamba daripada nafsunya, dia mempertuhan nafsunya. Dan nafsu itu adalah yang paling dimurkai oleh Alloh, maka dengan sendirinya orang yang menjadi hamba nafsu itulah orang yang paling dimurkai Alloh.

Nabi SAW bersabda :

ابغض إله عبد عند الله فى الأرض هو الهوى

(رواه الطبرانى عن ابى أمامة الباهلى)

“Berhala sesembahan di bumi yang paling dimurkai dan dikecam oleh Alloh adalah “hawa nafsu”. (HR. Tobroni dari Abi Umamah Al-bahili)

BILLAH

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Billah

BILLAH, artinya dalam segala kehidupan, gerak gerik kita atau perbuatan atau tindakan apa saja lahir batin, dimanapun dan kapanpun, supaya dalam hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah Alloh Maha pencipta. Jangan sekali-kali mengaku atau merasa bahwa kita mempunyai kemampuan sendiri.

Ini mutlak, dalam segala hal supaya merasa begitu. Baik dalam keadaan ta’at maupun ketika ma’siat, harus merasa Billah !. tanpa kecuali !. ini harus kita sadari !. karena sifat ma’ani dan ma’nawi adalah sifat wajib bagi Alloh dan muchal –tidak mungkin- bagi makhluk. Alloh berdiri sendiri, tidak membutuhkan dzat yang mendirikan, dan segala sesuatu selain Alloh adalah qooimun (berdiri) dengan Alloh (Billah). Maka tidak ada sesuatu di dalam wujud ini yang berdiri dengan dirinya sendiri kecuali hanya Alloh yang punya sifat Al-Chayyu Al-Qoyyum, berdiri dengan Dzat-Nya sendiri. Segala sesuatu yang hadist (baru) di alam semesta ini adalah perbuatan dan ciptaan Alloh. Tidak ada pencipta dan pembuat perkara baru kecuali hanya Alloh.

Alloh berfirman dalam QS As-Shoffat : 96 :

والله خلقكم وما تعملون

“Alloh-lah yang menciptakan kamu sekalian dan apa yang kamu sekalian perbuat”.

Oleh sebab itu meskipun perbuatan seseorang itu kasab (tampak usahanya sendiri), perbuatan itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Alloh. Maka tidak terjadi pula ada suatu kegiatan di alam dunia dan alam malakut dalam sekejap mata dan sekedip pandangan kecuali dengan kepastian, keputusan dan kehendak Alloh.

Alloh berfirman dalam QS Ibrohim 4 :

فيضل من يشاء ويهدى من يشاء

“Alloh menyesatkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki”.

Alloh berfirman dalam QS At-Takwir 29 :

وما تشاءون الا ان يشاء الله رب العالمين

“Tidaklah kamu sekalian berkehendak, melainkan Alloh Tuhan semesta alma yang berkendak”.

Alloh berfirman dalam QS Al-Anfal 17 :

وما رميت اذ رميت ولكن الله رمى

“Dan tidaklah kamu melempar ketika kamu melempar, akan tetapi Alloh-lah yang melempar”.

Apabila seseorang telah menyadari yang demikian, maka ia akan mengetahui tentang hakikat, yang ada hanyalah Alloh dan tidak ada sesuatu yang bersama-Nya. Dan ketika itu pula akan terbuka bagi mata hatinya dengan menyadari bahwa sesungguhnya kekuasaannya adalah kekuasaannya Alloh, kehendaknya adalah kehendaknya Alloh, ilmunya adalah ilmunya Alloh, hidupnya adalah hidupnya Alloh, pendengaranya adalah pendengarannya Alloh, penglihatannya adalah penglihatannya Alloh dan bicaranya adalah bicaranya Alloh. Artinya, apabila ia berkuasa maka dengan kekuasaannya Alloh, berkehendak dengan kehendaknya Alloh, berilmu dengan ilmunya Alloh, hidup dengan hidupnya Alloh, mendengar dengan pendengarannya Alloh, melihat dengan penglihatannya Alloh dan berbicara dengan bicaranya Alloh; artinya “ BILLAH ”, sebagai penerapan kandungan kalimah “LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH”.

Perasaan yang demikian itu harus diterapkan dan disadari dalam setiap keadaan dan setiap keluar masuknya nafas. Dan ketika sudah menyadari yang demikian itu, ia akan mengetahui bahwa semua sifat yang disandarkan kepada dirinya sebagaimana perkataan “kamu mengetahui”, “kamu mendengar” dan lain sebagainya, itu merupakan kata pinjaman dan majaz, dan penyandaranya kepada Alloh adalah melalui pandangan sebagai pemilik yang hakiki.

Rosul SAW bersabda :

يقول الله تعالى: لا يزال عبدى يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاذا أحببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصر به ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها الحديث

(رواه البخارى عن ابى هريرة رضىالله عنه)

“Alloh berfirman : “ Hamba-hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunah hingga sampai Aku mencintainya. Maka ketika Aku mencintainya, Aku jadi pendengarannya ketika ia mendengar, Aku jadi penglihatnnya ketika ia melihat, Aku jadi tangannya ketika ia memukul dan Aku menjadi kakinya ketika ia berjalan”. (HR. Bukhori dari Abi Huroiroh ra).

Dan segala sesuatu dari kebaikan secara syari’at, maka kita menyandarkan kepada Alloh itu karena penciptaan, dan menyandarkannya kepada diri kita karena penempatan (sebagai tempat amal). Adapun untuk perkara jelek maka kita menyandarkan kepada diri kita karena mengikuti penyandarannya Alloh kepada diri kita (Lillah/karena perintah Alloh). Sedangkan melalui pandangan hakikat, kepemilikan, penciptaan dan perwujudan maka segala sesuatu (perkara baik dan jelek) adalah dari sisi Alloh.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 78 :

وان تصبهم حسنة يقولوا هذه من عند الله, وان تصبهم سيئة يقولوا هذه من عندك, قل كل من عند الله

“Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka berkata; ‘ini adalah dari sisi Alloh’, dan jika mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka berkata; ‘ini dari sisi kamu sendiri –Muhammad-. Katakanlah ‘Semua itu –datang- dari sisi Alloh”.

Penyandaran segala sesuatu kepada Alloh dalam firman-Nya yang artinya: “katakanlah segala sesuatu itu dari sisi Alloh” adalah menurut pandangan hakikat, karena sesungguhnya Alloh yang menciptakan dan yang mewujudkan. Adapun penyandaran perkara jelek kepada seorang hamba dalam firman-Nya : “ apa yang menimpa dirimu dari kejelekan, itu dari dirimu sendiri” adalah melalui pandangan majaz (kiasan). Contohnya seperti orang yang mengasuh seorang anak yang bukan anaknya sendiri. Ketika ia ditanya “Apakah ini anak saudara……?. Lalu ia menjawab “Ya”. Jawaban ini adalah pernyataannya lisan, namun hatinya menyaksikan dan menyadari bahwa sesungguhnya anak itu bukan anaknya sendiri. Dan pengakuannya bahwa anak itu anaknya sendiri adalah karena perintah dari orang tua anak itu yang sebenarnya. Maka apabila ia tidak merasa demikian, ia adalah pendusta, karena mengakui sesuatu yang bukan miliknya menurut hukum syari’at dan hakikat.

Kerugian orang yang tidak sadar Billah

Orang yang tidak sadar Billah, sekalipun ia masih beriman, dia tidak lepas dari bahaya musyrik = mempersekutukan Alloh. Sekalipun syirik khofi (samar-samar)

Alloh berfirman dalam QS Yusuf 106 :

وما يؤمن أكثرهم بالله الا وهم مشركون

“Dan sebagaian besar dari mereka tidak sadar BILLAH melainkan mereka masih mempersekutukan Alloh”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 16 :

ان الله لا يغفر ان يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء, ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا

“Sesungguhnya Alloh tidak memberi ampun sekiranya dipersekutukan dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa-dosa lain selain dosa syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sungguh ia tersesat sejauh-jauhnya”.

Alloh berfirman dalam QS Al-Alaq 6-7 :

كلا ان الانسان ليطغى, ان رآه استغنى

“Ketahuilah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”.

Yang dimaksud ayat ini adalah manusia benar-benar lacut dan kufur, karena melihat dirinya merasa cukup dengan dirinya sendiri, jauh dari Alloh (Binafsi). Maka semua orang yang berkeyakinan bahwa dia merasa cukup dengan dirinya sendiri (Tidak Billah) dalam sekejap mata, niscaya dia telah benar-benar lacut dan kufur, karena semua makhluk adalah membutuhkan Alloh dalam gerak dan diamnya (tidak bergerak dan diam kecuali hanya dengan Alloh, tidak dengan dirinya sendiri). Oleh sebab itu wajib bagi setiap orang mukallaf untuk mempelajari dan mengamalkan Ilmu Billah agar dia tidak lacut dan kufur, karena niatnya orang yang lacut dan kufur akan menimbulkan riya’, ujub dan takabbur. Sehingga dia tidak melihat dirinya sendiri kecuali dengan pandangan kebesaran, dan melihat orang lain dengan pandangan merendahkan, bahkan tidak terlintas dalam gerak hatinya kecuali ada rasa “Aku lebih baik, lebih mengetahui, lebih taqwa dan lebih mulya dari pada kamu..dsb.

Alloh berfirman dalam QS An-Najm 32 :

فلا تزكوا انفسكم, هو اعلم بمن اتقى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah (Alloh) yang paling mengetahui tentang orang-orang yang taqwa”.

Alloh berfirman dalam QS Az-Zumar 65 :

ولقد أوحى اليك والى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخسرين

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada Nabi-nabi sebelummu: “Jika Engkau mempersekutukan Alloh (tidak sadar Billah), niscaya akan menjadi hapuslah amal-mu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang menderita kerugian”.

Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

ان قليل العمل ينفع مع العلم بالله وكثير العمل لا ينفع مع الجهل بالله

(رواه ابن عبد البر عن انس بن مالك)

“Sesungguhnya sedikit amal yang disertai sadar Billah itu bermanfaat adanya, dan sesungguhnya banyaknya amal yang dikerjakan dengan bodoh Billah (tanpa sadar Billah) itu tidak bermanfa’at adanya”. (HR. Ibnu Abdil Barri dari Anas Bin Malik)

Alloh berfirman dalam QS Al-Isro’ 39 :

ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى فى جهنم ملوما مدخورا

“Dan janganlah kamu sekalian menjadikan Tuhan disamping Alloh; yang demikian itu menyebabkan kamu akan dilemparkan kedalam neraka jahanam dalam keadaan terkutuk dan dijauhkan dari rahmat Alloh”.

Ilmu Billah kewajiban pertama

Imam Ghozali berkata :

“Semua manusia telah ditanami iman Billah, bahkan ditanami ma’rifat untuk mengetahui segala sesuatu menurut iman Billah. Oleh sebab itu mengajar manusia dengan ilmu Billah adalah tidak bertentangan dengan batasan hukum syari’at, bahkan lebih sesuai dengan pembawaan manusia itu sendiri”.

Alloh berfirman dalam QS Ar-Rum 30 :

فطرة الله التى فطر الناس عليها

“Tetaplah atas fitroh Alloh, yang menciptakan manusia menurut fitroh itu”.

Rosul SAW bersabda :

كل مولود يولد على الفطرة الحديث

(رواه البخارى )

“Semua bayi itu dilahirkan berdasarkan atas fitroh”. (HR. Bukhori)

Yang dimaksud fitroh adalah naluri atau pembawaan yang ada dalam jiwa seorang anak. Dan dengan fitroh itu ia telah siap untuk ma’rifat kepada Tuhannya. Maka mengajar seorang anak dengan ilmu Billah adalah tidak keluar dari batasan hukum syari’at, bahkan sangat sesuai dengan naluri dan pembawaannya. Karena apabila selama naluri dan pembawaan seorang anak itu tetap pada keadaannya, maka jiwanya akan tetap berada diatas kebenaran dan tuntunan agama islam, dan tidak ada yang menutupi jiwanya dari kebenaran dan tuntunan agama islam setelah ia dewasa, melainkan keragu-raguan yang ditanam oleh syaithon.

Sedangkan ma’rifat kepada Alloh itu adalah fardu a’in bagi orang yang sudah baliq, termasuk bagi seorang anak. Pendapat ini menurut para Ulama Madzab Hanafi dan Ulama Iraq. Karena kewajiban beriman bagi orang baliq itu dengan mengambil pengertian akal. Maka apabila seorang anak sudah berakal, maka wajib bagi dirinya untuk ma’rifat kepada Alloh. Oleh sebab itu belajar ilmu Billah adalah fardu a’in, bahkan menjadi kewajiban pertama bagi setiap orang mukallaf, karena bodoh Billah adalah haram, sedangkan ma’rifat Billah adalah wajib. Dan ibadah kepada Alloh itu terhenti pada ma’rifat, maka orang yang tidak ma’rifat kepada Alloh ia termasuk orang yang tidak ibadah kepada-Nya. Sebab firman Alloh QS. Adz-Dzariyat 56: artinya “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar supaya mereka beribadah”, menurut Ibnu Abbas mempunyai pengertian “kecuali agar supaya mereka ma’rifat”. Maka orang yang tidak ma’rifat kepada Alloh hukumnya sama saja dengan tidak ibadah. Padahal iman (keyakinan) itu mengikuti (didahului) oleh ma’rifat, maka bagaimana kita akan menyembah Alloh yang kita tidak ma’rifat (mengenal) kepada-Nya, dan ketika kita meyakini Alloh dan sifat-sifat-Nya dengan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, maka ibadah kita seperti debu yang dihambur-hamburkan angin tidak ada gunanya.

Kewajiban Penerapan Lillah Billah

Lillah Billah itu syari’at dan hakikat. Ibarat berlakunya dhohiriyah dan bathiniyah. Amal Lillah adalah amal yang memenuhi hukum lahiriyah, sedangkan amal Billah memenuhi hukum bathiniyah.

Oleh sebab itu kewajiban seseorang itu ada dua perkara. Pertama, menjalankan perintah dalam lahiriyah; yaitu ta’at karena perintah Alloh. Kedua, bergantungan dengan Alloh dalam bathin; yaitu merasa butuh kepada Alloh dari pada selain-Nya. Dan salah satu dua perkara tersebut tidak bisa terpisahkan dari pemiliknya sebagaimana kedudukannya islam dan iman. Maka Lillah Billah harus diterapkan serempak bersama-sama. Hanya Lillah saja tanpa Billah; berbahaya !. bahayanya yaitu antara lain ‘Ujub, riya’, takabbur dan sebagainya. Begitu juga hanya Billah saja tanpa Lillah, menjadi batal karena tidak menjalankan perintah dan menjauhi larangan Alloh.

Sebagaian Ulama berkata :

“Barangsiapa bersyari’at tanpa hakikat, ia adalah fasiq, dan barangsiapa berhakikat tanpa bersyari’at, ia adalah kafir zindiq (pura-pura iman)”.

Imam Abu Abdillah Malik ibnu Anas berkata :

“Barangsiapa berfiqh tanpa bertasawuf, ia adalah fasiq, dan barangsiapa bertasawuf tanpa berfiqh, ia adalah zindiq, dan barangsiapa melaksanakan keduanya, maka ia adalah sebagai orang yang benar-benar beragama islam”.

Dan menurut kitab syarah Hikam Ibnu Ibad bahwa semua amal yang tidak ada keikhlasan didalamnya; yaitu tidak dijiwai Billah dan Lillah, maka amal tersebut akan dikembalikan dan dipukulkan kewajah orang yang beramal.

LIRROSUL

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

LIRROSUL

Disamping niat ibadah Lillah seperti penjelasan diatas, supaya disertai dengan niat Lirrosul; yaitu niat ta’at dan mengikuti tuntunan Rosul SAW. Asal, bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 63 :

وما ارسلنا من رسول الا ليطاع باذن الله

“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul, malinkan untuk dita’ati dengan se-idzin Alloh”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nur 56 :

واطيع الرسول لعلكم ترحمون

“Dan ta’atlah kepada Rosul, supaya kamu diberi rahmat”.

Rosul SAW bersabda :

فاذا نهيتكم من شئ فاجتنبوه واذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

(متفق عليه)

“Jika aku mencegahmu dari sesuatu maka jauhilah sesuatu itu, dan jika aku memerintahmu sutau perkara maka kerjakanlah menurut kemampuanmu”.

لا يؤمن احدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

(رواه الترمذى)

“Belum sempurna seseorang diantara kamu sekalian, sehingga hawa nafsunya mengikuti pada apa yang sebab itu aku diutus”. (HR. Turmudzi).

Pengertian mengikuti itu ada dua. Pertama, mengikuti aqwaal (ucapan). Kedua, mengikuti af’al (perbuatan). Mengikuti ucapan adalah mengikuti apa yang diperintahkan matbu’ (orang yang diikuti) meliputi; perintah, larangan dan tarqib (motivasi/dorongan). Sedangkan mengikuti amal perbuatan adalah mengikuti semua amal-amal dan tatakrama Nabi SAW, selain perkara yang sudah menjadi sifat khusu Nabi SAW menurut ketetapan dalil, maka pada perkara khusus itu tidak ada perintah mengikuti.

Adapun mengikuti pada perintah ada tiga; Wajib, sunah dan jawaz. Mengikuti perintah wajib adalah mengerjakan semua kewajiban seperti; sholat lima waktu dan menjauhi semua larangan yang diharamkan seperti; minum khomer. Sedangkan mengikuti perintah sunah adalah mengerjakan perkara yang disunahkan seperti; sholat sunah sesudah sholat fardhu serta menjauhi perkara yang dimakruhkan seperti; meninggalkan perkara-perkara yang disunahkan dalam sholat. Adapun mengikuti perintah jawaz (boleh dikerjakan, boleh tidak) adalah mengerjakan semua perkara yang diperbolehkan seperti; makan dan minum.

Adapun mengikuti meninggalkan larangan ada dua; haram dan makruh. Mengikuti meninggalkan larangan haram seperti; zina dan minu khomer. Mengikuti meninggalkan larangan makruh seperti; makan dan minum sambil berdiri.

Sedangkan mengikuti pada tarqib (motivasi/dorongan) terbagi dua; yaitu dorongan dalam melakukan keta’atan dan dorongan dalam meninggalkan ma’siat. Adapun mengikuti dorongan kata’atan seperti; senang dengan pahala, surga dan menambah nilai ta’at. Sedangkan mengikuti dorongan meninggalkan ma’siat seperti; menyadari adanya ancaman dan siksa atas perbuatan ma’siat.

Semua perbuatan mengikuti tersebut diatas bisa bernilai ibadah apabila ada niat mengikuti tuntunan Rosul SAW. Dan apabila tidak ada niat seperti itu, maka tidak akan bernilai ibadah, meskipun ada amal yang terkadang dinilai syah tanpa niat seperti; adzan dan membaca Al-Qur’an sebagaimana syahnya meninggalkan ma’siat tanpa niat, namun semua itu tidak bernilai ibadah dan tanpa pahala.

Ibnu Abbas ra berkata :

“Sesungguhnya keta’atanmu kepada Nabi Muhammad itu bernilai keta’atanmu kepada Alloh. Maka apabila kamu menta’ati Alloh dan menetang Nabi Muhammad, niscaya keta’atanmu tidak diterima”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 8 :

ومن يطع الرسول فقد اطاع الله

“Barangsiapa ta’at kepada Rosul, maka ia benar-benar ta’at kepada Alloh”.

Rosul SAW bersabda :

ومن اطاع محمدا فقد اطاع الله ومن عصى محمدا فقد عصىالله ومحمد فرق بين الناس

(رواه البخارى)

“Barangsiapa menta’ati Muhammad, maka sungguh ia telah ta’at kepada Alloh, dan barangsiapa menentang Muhammad, maka sungguh ia telah menetang Alloh. Muhammad itu berbeda diantara manusia”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 69 :

ومن يطع الله والرسول فاولئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن اولئك رفيقا

“Barangsiapa yang menta’ati Alloh dan Rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’amat oleh Alloh; yaitu para nabi, Shodiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Hakikat “mengikuti” atau “taat” menurut kitab Taqribul Usul hal 55 :

حقيقة المتابعة رؤية المتبوع عند كل شئ ومع كل شئ وفى كل شئ المراد بها رؤية الشهود

Hakikat “mengikuti” yang sesungguhnya adalah melihat “Yang diikuti” pada segala sesuatu, dan disamping, dan di dalam segala sesuatu”.

Dengan demikian, penerapan Lirrosul disamping Lillah adalah menjadikan kita semakin banyak ingat kepada Rosul SAW disamping ingat kepada Allph. Semakin banyak ingat kepada kanjeng nabi SAW otomatis akan semakin membuat seseorang lebih berhati-hati di dalam menjalankan tuntunannya dalam segala bidang. Dan orang yang selalu berhati-hati dan konsekwen dalam menjalankan tuntunan dan sunahnya, maka ia akan termasuk sebagai orang yang disebutkan oleh sabda Beliau SAW :

من احيا سنتى فقد أحبنى ومن أحبنى كان معى فى الجنة

(رواه السجزى عن انس بن مالك)

“Barang siapa yang menghidup-hidupkan sunahku, maka sungguh ia telah mencintai aku; dan barangsiapa yang mencintai aku, maka ia akan bersama-sama dengan aku di surga”.

Orang yang selalu menghidupkan sunah Beliau SAW berarti ia disebut “Ahli Sunnah” atau “Ahli Sunnah Wal Jama’ah”, karena dapat diartikan pula bahwa sunnah adalah tata cara atau perilaku Nabi SAW, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dalam hal aqidah, amal perbuatan dan ucapan. Dan menurut Ibnu mas’ud yang disebut jama’ah adalah suatu perkara yang sesuai dengan kebenaran (tuntunan Nabi SAW dan para sahabatnya) meskipun kamu (menjalankannya) seorang diri. Demikian pula Sufyan Atsauri berpendapat bahwa golongan besar itu adalah golongan “Ahli Sunnah Wal Jama’ah”, dan yang disebut golongan ahli sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang menjalankan kebenaran meskipun ia seorang diri (dalam menjalankannya). Oleh sebab itu Abu Sa’amah berpesan : “Apabila telah datang kepadamu suatu perintah kewajiban berjama’ah, maksudnya kewajiban menegakkan kebenaran dan melaksanakannya, meskipun yang memegang (melaksanakan) itu hanya sedikit dan yang menentangnya banyak, karena sesungguhnya kebenaran itu adalah perkara yang dilakukan jama’ah pertama di zaman Rosul SAW dan para sahabatnya.

Oleh sebab itu apabila kita mengaku sebagai golongan Ahli Sunnah Wal Jama’ah, maka wajib menerapkan Lirrosul di dalam menjalankan semua perkara dan tuntunan Beliau Rosul SAW, karena apabila kita tidak niat Lirrosul, bagaiamana mungkin kita bisa dicatat sebagai pengikut Rosul SAW dan disebut Ahli Sunnah wal Jama’ah yang hakiki. Sangat jauh sekali dan mustahil.

BIRROSUL

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

BIRROSUL

adalah penyaksian amal perbuatan yang diridloi Alloh dan Rosul-Nya serta menyadari semua ni’mat lahir batin yang dirasakan; baik ni’mat beragama, ni’mat di dunia maupun di akhirat adalah sebab perantaraan, syafa’at dan bimbingan Rosul SAW. Maka disamping penerapan Billah seperti diatas harus menerapkan Birrosul. Akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti Billah. Melainkan terbatas dalam so’al-so’al yang tidak dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya. Jadi dalam segala hal apapun, segala gerak gerik kita lahir batin, asal bukan hal yang dilarang, disamping sadar Billah kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rosul SAW.

Alloh berfirman dalam QS Ali Imron 103 :

وكنتم على شفا خفرة من النار فأنقذكم منها

“Dan kamu sekalian sudah berada ditepi jurang neraka kehancuran, kemudian Alloh menyelamatkan kamu sekalian dari padanya”. (dengan diutusnya Rosul SAW).

Alloh berfirman dalam QS Al-Anfal 23 :

ما كان الله معذبهم وانت فيهم

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada diantara mereka”.

Alloh berfirman dalam QS An-Nisa’ 64 :

ولو انهم اذ ظلموا انفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Alloh, dan Rosul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang”.

Nabi SAW bersabda :

حياتى خير لكم ومماتى خير لكم, واما حياتى فاسن لكم السنن واشرع لكم الشرائع, واما مماتى فان اعمالكم تعرض علي فما رأيت منها حسنا حمدت الله عليه وما رأيت منها سيئا استغفرت الله لكم

(رواه البزارى عن ابن مسعود باسناد صحيح)

“Hidup dan matiku baik bagi kamu sekalian. Semasa aku hidup aku membuat sunah dan syari’at untuk kamu lakukan. Adapun semasa aku mati, maka semua amal perbuatanmu diperlihatkan oleh Alloh dihadapanku. Ketika aku melihat amalmu baik aku, maka aku memuji kepada Alloh, dan ketika aku melihat amalmu jelek, maka aku memohonkan ampun kamu sekalian kepada Alloh”. (HR. Al-Bazari dari Ibnu mas’ud dengan sanad shoheh).

Alloh berfirman dalam QS Asy-Syuro 82 :

وانك لتهدى الى صراط مستقيم

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

Alloh berfirman dalam hadist Qutsti :

لولاك لولاك لما خلقت الأفلاك

(الحديث)

“Seandainya tidak karena Engkau (Muhammad), niscaya Aku (Alloh) tidak menciptakan alam semesta”.

Rosul SAW bersabda :

كنت اول الناس فى الخلق وآخرهم فى البعث

(رواه ابن مسعود عن قتادة باسناد صحيح)

“Aku adalah manusia pertama yang diciptakan dan manusia terakhir yang diutus”.

Nabi SAW bersabda :

كنت نبيا وآدم بين الروح والجسد

(رواه ابن سعد عن ابى الحذعاء والطبرانى عن ابن عباس باسناد صحيح)

“Aku sudah menjabat Nabi ketika Nabi Adam masih dalam proses antara jasad dan ruh”. (HR. Ibnu Sa’din dari Ibnu Chudza’ai dan Tobroni dari Ibnu Abbas dengan sanad shoheh).

Apabila Beliau SAW adalah awalnya manusia yang diciptakan, bahkan sudah menjabat sebagai Nabi sebelum Alloh menciptakan nabi Adam, maka bimbingan dari ruhnya SAW adalah perkara yang boleh diterima secara akal dan syari’at. Karena bahwasannya ruhaniyahnya SAW itu sebagaimana jasadnya dalam memberikan bimbingan, pertolongan, petunjuk dimana saja dan kapan saja.

Syeh Ibnu Aroby berkata :

“Tidak ada diantara kita semua yang telah menerima ilmu di dunia ini kecuali ilmu itu adalah batiniyah Muhammad SAW; baik itu para nabi dan para Ulama salaf dan kholaf (dahulu dan sekarang)

Dengan demikian bahwa Beliau SAW adalah perntara yang agung bagi kita dalam mendapatkan ni’mat, maka kita wajib mulachadoh (memandang dengan pandangan batin) kepada Beliau SAW ketika mengerjakan amal bidang Lillah dan ketika merasakan semua ni’mat dengan disertai penyaksian bahwa semua amal perbuatan dan keni’matan itu adalah sebab Rosul (Birrosul); artinya sebab perantaraan, syafa’at dan bimbingan Rosul SAW. Dan cara yang demikian ini yang dinamakan syukur kepada Rosul SAW dengan disertai hudhurnya hati, mengagungkan dan menanamkan rasa cinta yang mendalam. Dan penerapan Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul ini sebagai realisasi penerapan ma’na dua kalimah syahadat secara hakiki.

Alloh berfirman dalam QS Ali Imron 31 :

ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحيم

“Apabila kamu (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah Aku niscaya Alloh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Oleh sebab itu barangsiapa menyangka bahwasannya dia bisa mencapai keridloan Alloh tanpa melalui Beliau SAW sebagai perantara dan wasilah, maka tersesatlah pendapatnya dan dan sia-sia usahanya. Demikian pula barangsiapa berkeyakinan bahwasanya Nabi SAW itu tidak bisa memberi manfa’at setelah wafatnya, bahkan Beliau SAW dianggap sebagai umumnya manusia, maka dia adalah orang yang tersesat dan menyesatkan. Na’udzu Billah Min syarrihim.

LILGHOUTS

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

Pengertian Ghouts.

“GHOUTS” menurut bahasa adalah “PERTOLONGAN”. Menurut istilah adalah kedudukan salah satu Waliyulloh yang diangkat sebagai pemimpin para waliyulloh (Sulthon Auliyaa’) atau Qothbun Aqthob pada zamannya, juga sebagai penuntun, pembimbing, dan penolong ummat. Penuntun kepada kebaikan, pembimbing kepada keselamatan dan kebahagiaan yang diridloi Alloh wa Rosulihi SAW dan penolong dari berbagai kesulitan, kesusahan dan seluruh hajat hidup umat.

Jadi Ghouts hadzaz zaman adalah pemimpin para Waliyulloh dan penolong ummat pada zaman sekarang. Kalimat “Ghouts” berebentuk isim masdar yang berma’na isim fa’il yang artinya “Penolong”.

Sedangkan pengertian “Ghouts” menurut Syeh Ahmad Al-Kamsyakhonawi An-Naqsyabandzi adalah ibarat tentang QUTBUN ADZIMUN (pemimpin yang agung), ROJULUN AZIZUN (hamba yang mulya) dan SAYYIDUN KARIMUN (pemimpin yang mulya) yang dibutuhkan oleh manusia untuk meyingkap rahasia-rahasia hati yang penting. Dan Beliau juga sebagai hamba yang sangat diharapkan do’anya, karena do’anya sangat mustajab. Seandainya beliau sumpah kepada Alloh, tidak pernah mendustainya sebagaimana Uwais Al-Qorny yang hidup di zaman Beliau Rosul SAW.

Pribadi seorang Ghouts Zaman itu termasuk perkara yang dirahasiakan oleh Alloh. Dirahasiakannya itu karena untuk menjaga keselamatannya dan keselamatan ummat terutama mereka yang tidak menyadari atau tidak mengakui atas kedudukan Beliau.

Sebagaian Ulama’ Arifin berkata dalam kitab Syawahidul Haq hal 195:

وقد سترت احوال الغوث وهو القطب عليه السلام عن العامة والخاصة غيرة من الحق تعالىعليه

“Sungguh dirahasiakan perilaku (ahwal) nya Ghouts Al-Quthub dari orang-orang umum dan khusus, karena Alloh Yang Maha Benar tidak senang terhadap bahaya yang menimpa dirinya”.

Dan dikatakan :

ويكون تظاهرهم بالاستغال بالعلم الكسبى حجابا عليهم لكون القطب من شأنه الخفاء

“Dan keadaan lahiriyah mereka (para Ghouts) ialah menyibukkan diri seperti umumnya Ulama’ lain dalam bidang ilmu kasbi (ilmu syari’at) untuk merahasiakan kedudukannya, karena sebagian dari keadaan Quthbi itu memang dirahasiakan”.

Maka tanda-tanda atau ciri-ciri secara lahir para Ghouts fi zamanihi itu tidak mencolok, yang jelas Beliau-beliau adalah sebagai pejuang kebenaran dan kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosulihi SAW sebagaimana sabda Nabi SAW :

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة

(رواه الحاكم عن عمر رضىالله عنه )

“Dikalangan umatku senantiasa tidak sepi dari adanya “Thoifah” (kelompok) yang memperjuangkan kebenaran sampai datangnya hari qiyamat”.

Adapun secara batiniyah, para Ghouts memiliki ciri-ciri khas, antara lain seperti yang disebutkan dalam kitab Jami’ul Usul hal 4 :

1. قلبه يطوف الله دائما

2. له سر يسرى فى العالم كما يسرى الروح فى الجسد او كما يسرى الماء فى الشجر

3. وهو حمل هموم اهل الدنيا

  1. Hatinya selalu thowaf kehadirat Alloh SWT.
  2. Beliau memiliki sirri yang dapat menerobos keseluruh alam seperti meratanya roh dalam jasad atau seperti menerobosnya air dalam pepohonan.
  3. Beliau menanggung (memprihatinkan) kesusahan/kesulitan makhluk di dunia.

Kerugiannya bagi yang tidak percaya kepada Ghouts zaman

Orang yang tidak percaya pada sesuatu, pasti ia akan meremehkan, merendahkan dan mengingkari sesuatu itu. Dan mengingkari sesuatu yang sudah jelas ada dasar hukumnya adalah kufur. Maka tidak mempercayai bahkan mengingkari keberadaan Ghouts zaman yang jelas-jelas sebagai Waliyulloh adalah kufur, bahkan akan menjadi musuh Alloh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Qutsi :

عن ابى هريرة رضىالله عنه عن النبي صلىالله عليه وسلم قال: ان الله عز وجل يقول: من آذى لى وليا فقد آذنته بالحرب

(رواه البخارى) قوله آذنته اى اظهرت بمحاربتى (التبيان)

“Dari Abi Huroiroh ra dari Nabi SAW bersabda: “bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman : “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka sesungguhnya Aku akan memusuhinya”. (HR. Bukhori).

Syeh Muhammad Al-Kholily berkata :

واعلم ان الاعتراض على القوم يعنى الصوفية (الاولياء) مما يوجب الخذلان فيوفع فاعله فى واد من الخسران

(شواهد الحق :142)

“Ketahuilah bahwasanya mengingkari kaum Syufi (para Wali Alloh) itu, termasuk perilaku yang mengakibatkan kehinaan, sehingga pelakunya akan terjerumus kedalam jurang kerugian (kehancuran)”.

Syeh Ibnu Hajar berkata :

فمن اعترض عليهم (اى على الأولياء) يخثى عليه سوء الخاتمة كما وقع لكثير من الناس انهم مقتوا بذلك ولم يفلحوا

(شواهد الحق : 142)

“Barangsiapa mengingkari para Waliyulloh, maka dikhawatirkan akan su’ul khotimah (pada waktu sakaratul mautnya) seperti orang-orang yang telah melakukan hal tersebut. Mereka dimurkai oleh Alloh SWT, dan tidak bisa bahagia (di dunia dan di akhirat)”.

Syeh Dawud bin Makhola berkata :

من دخل الدنيا ولم يصادف رجلا كاملا يربيه خرج منها متلوثا بالكبائر وان كان بعبادة الثقلين

(تقريب الاصول)

“Barangsiapa memasuki (hidup) di dunia ini tidak menemukan seorang pembesar Wali yang sempurna yang membimbingnya kearah kesadaran kepada Alloh, niscaya dia akan keluar dari dunia ini (meninggal dunia) dengan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya sebanyak ibadahnya bangsa jin dan manusia”.

Oleh sebab itu, mari kita berhati-hati di dalam memandang dan menilai kepada orang yang menjadi kekasih Alloh. Karena sekali saja kita merendahkan dan mengingkarinya, niscaya kita akan dimurkai oleh Alloh. Maka yang lebih baik, kita harus tetap percaya akan keberadaannya Waliyulloh yang menjabat Ghouts di zaman ini, meskipun kita tidak mengetahui siapa orangnya. Yang penting kita yakin dengan mengetrapkan “Lil-Ghouts Bil-Ghouts”. Karena orang yang mau berhubungan (hubungan batiniyah) dengan Ghouts, niscaya akan mendapatkan kuntungan/ faidah yang agung.

Keuntungan bagi orang yang berhubungan dengan Ghouts

1. Disebutkan dalam kitab Jami’ul Usul hal 48 :

قلب العارف حضرة الله وحواسه ابوابها فمن تقرب اليه بالقرب الملائم له فتحت له ابواب الحضرة

“Hatinya orang Arif Billah (Ghouts) itu merupakan “Hadlrotulloh” dan panca inderanya sebagai pintu-pintunya hadlroh. Maka barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Beliau dengan pendekatan yang serasi dengan kedudukan Beliau, akan terbukalah baginya pintu-pintu hadlroh (kesadaran kepada Alloh SWT)”.

2. Disebutkan dalam kitab Taqribul Usul hal 48 :

العارف أثره فى الآخذين عنه بأمداده وانواره اكثر من أثر فيهم بأذكارهم وأعمالهم

“Hasil tarbiyahnya (bimbingan) orang Arif Billah (Ghouts) dalam hatinya orang-orang yang mengambil darinya, dengan pertolongan dan anwarnya itu lebih banyak dari pada hasilnya dzikir dan amal perbuatan mereka sendiri”.

3. Disebutkan dalam kitab Taqribul usul hal 51 :

لو ان عارفا بالله فى مشرق الشمس ينطق بحقيقة ورجل يحب له فى مغربها كان له نصيب من ذلك على حسب وتهذيب محبته

“kalau ada orang Arif Billah ditempat terbitnya matahari mengajarkan tentang hakikat, dan salah satu orang yang mencintainya berada di tempat terbenamnya matahari, maka dia tetap menerima bagian dari yang dikatakan Beliau yang sesuai dengan bagian dan kemurnian rasa cintanya kepada Beliau”.

4. Dikatakan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz 1 hal 5 :

قال صلىالله عليه وسلم: تعلموا علم اليقين. ومعناه: جالسوا الموقنين واستمعوا منهم علم اليقين وواظبوا على الإقتداء بهم ليقوى يقينكم كما قوى يقينهم لانه قليل من اليقين خير من كثير من العمل

“Nabi SAW bersabda : “Belajarlah kamu semua tentang ilmu yakin (ilmu kesadaran kepada Alloh SWT). Maksudnya : “Duduklah kamu sekalian bersama orang-orang yang memiliki keyakinan (kesadaran) dan dengarkan dari mereka tentang ilmu yakin, dan senantiasa ikutilah mereka agar keyakinan (kesadaranmu) menjadi kuat seperti kuatnya kesadaran mereka. Sebab sedikitnya keyakinan itu lebih baik daripada banyaknya amal”.

5. Disebutkan dalam kitab Tafrihil Khothir hal 44-45 :

من تحير فى أمر وتوسل الى الغوث يبدل الله عسره باليسر ويخلص العجز ويناله فرح وسرور

“Barangsiapa mengalami kebingungan / kesulitan dalam suatu urusan, dan dia mau tawassul (istighotsah) kepada Beliau Ghouts, maka kesulitannya akan diganti oleh Alloh dengan kemudahan dan akan dihilangkan kelemahannya serta menerima kesenangan dan kebahagiaan”.

Mengikuti bimbingan Ghouts -Lil-Ghouts -

Lil-Ghouts adalah seseorang niat mengikuti bimbingannya Ghouts dalam semua amal dan perbuatan, disamping niat Lillah dan Lirrosul seperti yang telah dijelaskan diatas. Karena sesungguhnya Ghouts adalah orang yang lebih sempurna ma’rifatnya kepada Alloh wa Rosulihi SAW dan pembesar ummat dalam setiap zaman serta sebagai pewaris Nabi SAW yang sempurna. Maka barangsiapa yang mengikuti bimbingan Ghouts dengan niat karena perintah Alloh dan Rosululloh SAW (Lillah dan Lirrosul), ia telah tercatat sebagai orang yang ta’at kepada Alloh dan Rosululloh SAW, karena Alloh berfirman :

واتبع سبيل من أناب الي

(لقمان 15)

“Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepada-Ku”. (Luqman ; 15)

Dalam firman yang lain berbunyi:

ياايها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

(التوبة 119)

“Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah ; 119)

Rosul SAW bersabda :

لا تزال أمتى بخير ما أخذوا العلم عن اكابرهم

(اخرجه ابو نعيم)

“Umatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka memperoleh ilmu dari Ulama-ulama besar mereka”. (dikeluarkan oleh Abu Nu’aim)

Dikatakan dalam kitab Khozinatul Asror dan Nurul Burhan hal 401 :

كن مع الله فان لم تكن فكن مع من كان مع الله فانه يوصلك الى الله ان كنت معه

“Besertalah kamu dengan Alloh. Jika kamu tidak bisa, besertalah dengan orang yang beserta dengan Alloh, karena sesungguhnya ia dapat menyampaikan kamu (menuntun sadar) kepada Alloh jika kamu beserta dengannya”.

Rosul SAW bersabda:

لا تجلسوا عند كل عالم الا عالما يدعوكم من خمس الى خمس: من الشك الى اليقين ومن الرياء الى الإخلاص ومن الرغبة الى الزهد ومن الكبر الى التواضع ومن العداوة الى النصيحة

(رواه ابو نعيم عن جابر)

“Janganlah kamu semua duduk (mengikuti) di depan (kepada) setiap orang yang ‘Alim kecuali yang benar-benar ‘Alim yang membimbing kamu dari (meninggalkan) lima perkara untuk menuju (melakukan) lima perkara; dari ragu-ragu (tidak iman) menuju yaqin (sadar dan iman Billah), dari riya’ menuju ikhlas, dari cinta dunia menuju zuhud, dari takabur menuju rendah hati dan dari permusuhan menuju persahabatan”.

BILGHOUTS

Posted: November 30, 2010 in Ajaran Wahidiyah

 BILGHOUTS

adalah “Mulachadhotul Ghouts” (memandang dengan pandangan bathin) kepada Ghouts dalam semua amal; baik amal bidang Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul dengan merasa melalui bimbingan Ghouts. Karena sesungguhnya Ghouts adalah washithoh (perantara) antara kita dan Rosul SAW dalam mendapatkan petunjuk, bimbingan, pertolongan dan hidayah. Juga sebagai wasilah (jembatan) kita menuju kepada Alloh dan Rosul SAW dalam semua hajat, karena Beliau adalah orang yang mustajab permohonannya dan sempurna dalam menampakkan sifat ahadiyah dzat-Nya Alloh.

Syeh Abdul Wahab Asy-Sya’roni berkata:

“tidak ada tempat menampakkan sifat Ahadiyah Dzat-Nya Alloh kecuali manusia yang kaamil (sempurna), bahkan ia adalah orang yang lebih sempurna bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW dalam semua hajat, karena ia sebagai pewaris Nabi SAW secara sempurna”.

Syeh Abul Abbas ra berkata:

“Maqom salik tidak bisa sempurna, kecuali setelah bertemu dan berdialog langsung dengan Nabi SAW sebagaimana muroja’ah (dialog) nya seorang murid dengan gurunya”.

Maka dalam kitab Yawaqit juz 1 hal 72, disebutkan: “Apabila telah syah (benar dan nyata) bagi seorang wali mengambil pelajaran langsung dari Nabi SAW tanpa melalui perantara, maka ia telah syah menjadi mursyid memberi petunjuk ummat Muhammad, dan menduduki tempat permohonannya ummat kepada Alloh Yang Maha Agung, dengan menempati hukum penggantinya Rosululloh SAW”.

Maka wajib bagi kita bersyukur kepada Ghouts dengan merapkanan Bil-Ghouts. Karena meskipun kita menyadari bahwasanya Alloh sendiri yang memberi pertolongan, namun hukum syari’at mewajibkan kita mensyukuri perantaraannya. Maka penerapan Bil-Ghouts adalah wujud syukur kepadanya, dengan memandang semua ni’mat yang telah sampai kepada kita sebab perantaraan Beliau.

Rosul SAW bersabda:

التحدث بنعمة الله شكر وتركها كفر ومن لا يشكر القليل لا يشكر الكثير ومن لا يشكر الناس لا يشكر الله والجماعة بركة والفرقة عذاب

(رواه البيهقى عن النعمان بن بشير)

“Tachadus Bini’matillah (membicarakan ni’mat Alloh) merupakan wujud syukur, dan meninggalkannya adalah kufur. Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak bisa mensyukuri yang banyak. Dan barangsiapa tidak syukur kepada mansia, maka ia tidak syukur kepada Alloh. Jama’ah (bersatu) adalah membawa barokah, sedangkan perpecahan membawa adzab”. (HR. Baihaqi dari Nu’man bin Basyir).